Tito mengatakan selain mendatangkan saksi para tersangka keluarga atau warga yang mengenal, Polri juga akan mendatangkan para anggota polisi yang pernah memeriksa Santoso dan Basri beberapa tahun lalu.
Sebelumnya, satuan tugas Tinombala terlibat kontak tembak dengan kelompok bersenjata di Desa Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah pada Senin (18/9) petang. Dua orang tewas sedangkan tiga lainnya termasuk dua wanita berhasil lolos.
Kelompok Teroris Sudah Lemah
Tito mengatakan jika nantinya Santoso dan Basri benar tewas tertembak maka tak ada lagi tokoh yang memiliki kemampuan memimpin jaringan yang masih tersisa termasuk Ali Kalora yang masih buron."Ali Kalora juga tidak memiliki kemampuan, kompetensi dan kepemimpinan seperti Basri dan Santoso," kata Tito.
Namun, dia mengatakan kaderisasi bisa saja terjadi jika pemerintah tetap mendiamkan kelompok ini termasuk upaya untuk menetralisir kelompok kekerasan.
Tito mengatakan persenjataan kelompok ini diperkirakan hanya memiliki satu senjata api stadar pabrik setelah satu senjata M16 disita usai kontak tembak. "Persenjataan gak sebanyak sekarang. Senjata rakitan tiga hingga empat pucuk, senjata pabrikan satu lagi," ujarnya.
Tito menyampaikan terima kasih pada Satgas Polri terutama TNI yang terlibat langsung dalam kontak tembak itu. "Kalau memang betul ini santoso, apapun operasi ini saya ucapkan terima kasih apresiasi kepada rekan-rekan TNI dan Polri karena ini operasi gabungan Tinombala ini. Dan juga dari BIN dan lain-lain," katanya Ia mengatakan operasi Tinombala akan terus berlangsung karena masih banyak buronan yang berlum tertangkap.
Kepala Kepolisian Jenderal Tito Karnavian merasa yakin satu dari dua jenazah yang diduga buron kasus terorisme di Poso Sulawesi Tengah adalah Santoso -sosok pentolan kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur. Hal itu ia nyatakan kepada media di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (19/7).