“Saya tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk menghormati para jurnalis di Gaza, tapi ke depan saya akan mendedikasikan kontribusi saya untuk mereka,” tegasnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri mencatat sekitar 273 jurnalis telah menjadi korban jiwa sejak Oktober 2023, yang menjadikan konflik Palestina dan Israel di Gaza sebagai konflik paling mematikan bagi pers dalam sejarah modern.
Juru Bicara Divisi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Thameen Al-Kheetan pun mengatakan berbagai investigasi yang selama ini dilakukan terhadap kasus kejahatan perang israel yang mengincar para jurnalis tidak pernah menghasilkan akuntabilitas. Bahkan tidak ada kejelasan.
“Jumlah jurnalis yang menjadi korban jiwa di Gaza telah menimbulkan banyak pertanyaan tentang target serangan dari konflik Palestina dan Israel. Jurnalis di sini membutuhkan keadilan dan perlindungan,” kata Al-Kheetan sebagaimana dilansir The Guardian.
Selain itu, pelapor khusus PBB untuk HAM di Palestina, Francesca Albanese mendesak komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk menghentikan kekerasan terhadap jurnalis di Gaza. Serangan Israel yang menewaskan wartawan, tenaga medis, dan warga sipil sebagai bukti terjadinya kejahatan berat yang tidak boleh dibiarkan tanpa akuntabilitas.
“Seluruh jurnalis dunia harus bersuara melawan pembantaian rekan-rekan pejuang di Palestina, yang tengah mendokumentasikan genosida,” ujar Albanese.
Namun, dia mengingatkan kecaman tanpa tindakan tegas tidak akan cukup. Perlindungan terhadap jurnalis di Gaza telah diabaikan secara sistematis, bahkan ketika jumlahnya telah mencapai titik tertinggi dalam sejarah modern.
“Sikap diam hanya akan memperkuat pola kekerasan yang kini menargetkan profesi jurnalis dan pekerja kemanusiaan,” pungkas Albanese.
















