Ketua AMSI Tegaskan Konsisten Bangun Ekosistem Media Sehat dan Berkualitas
Terbaru

Ketua AMSI Tegaskan Konsisten Bangun Ekosistem Media Sehat dan Berkualitas

AMSI akan terus konsisten membesarkan industri media digital Indonesia agar makin sehat bisnisnya dan makin berkualitas kontennya, sebagaimana kita deklarasikan dan cita-citakan bersama.

Ady Thea DA
Bacaan 3 Menit
Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut. Foto: ADY
Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut. Foto: ADY

Mundurnya 15 media dari keanggotaan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) memunculkan beragam respons publik. Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut mengakui 15 media itu merupakan bagian dari 470 anggota AMSI yang ada di 27 provinsi di seluruh Indonesia. Dari 15 media yang sudah mengundurkan diri itu, 8 merupakan bagian dari 26 media pendiri AMSI. 

Wenseslaus mengatakan pengurus pusat AMSI sudah menerima surat pengunduran diri 15 media itu dan berusaha memahami isinya, serta sudah pula mengirim balasan yakni menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama membesarkan asosiasi ini. Seperti organisasi lainnya, AMSI juga penuh dinamika.

"Ini hal wajar bagi organisasi manapun, dan dari situlah seringkali sebuah organisasi tumbuh dan hidup serta berupaya tetap berguna bagi anggota dan masyarakat umum," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu (29/7).

Baca Juga:

Sejumlah anggota AMSI, menurut Wenseslaus, mendukung organisasi untuk meneruskan misi dan program. Sampai saat ini pengurus pusat dan anggota AMSI menilai belum jelas dinamika mana yang menjadi alasan pengunduran diri tersebut. Tidak jelas visi awal mana yang dianggap tak lagi sejalan begitu juga program yang dianggap melanggar kesepakatan. Tapi yang pasti 18 April 2017 AMSI didirikan dengan tujuan yang disepakati bersama: mendorong ekosistem media di Indonesia menjadi sehat, menghargai jurnalisme berkualitas, patuh pada serangkaian kode etik, dan tunduk pada kepentingan publik.

Dalam 6 tahun terakhir AMSI fokus pada serangkaian program perbaikan internal, membenahi konten, mendorong perbaikan sisi teknologi, model bisnis, memotivasi anggota agar memelihara relevansi dengan kebutuhan publik, sembari terus beradapsi dengan perkembangan dunia digital yang berubah begitu cepat.

Demi semua tujuan itu, AMSI bekerjasama dengan lembaga pemerintahan, kampus, perusahaan swasta di dalam negeri maupun luar negeri, serta banyak lembaga internasional. AMSI juga aktif sebagai konsituen Dewan Pers merumuskan regulasi dan kebijakan untuk merawat dan menjaga kebebasan pers serta meningkatkan kualitas jurnalis dan pers di Indonesia.

Selain itu, Wenseslaus menyebut AMSI menggelar banyak pelatihan, program pendampingan media, coaching clinic dan beasiswa (fellowship) bagi ratusan media anggotanya. Secara berkala, AMSI memberikan award untuk media-media yang dinilai berhasil menjadi contoh perbaikan dan pertumbuhan digital di Indonesia.

Wenseslaus mengatakan AMSI menyadari menjaga ekosistem media demi kemuliaan jurnalisme itu, tidak bisa dilakukan sendirian. Di lansekap digital, ada begitu banyak pihak yang menentukan perjalanan sebuah berita dari ruang redaksi sampai ke layar ponsel publik. Karena itu, selain menyambungkan media anggota dengan channel distribusi konten, AMSI juga secara aktif mendorong platform agar mengutamakan konten yang berkualitas pada kanal distribusi mereka, termasuk sejak awal ikut serta dalam menyusun draft Perpres publisher rights dan aktif di tim media sustainability yang dibentuk Dewan Pers.

Lebih lanjut Wenseslaus menjelaskan AMSI adalah asosiasi penerbit/perusahaan media siber yang tidak mencari keuntungan (nirlaba) sebagaimana disebut dalam pasal 7 Anggaran Dasar organisasi. AMSI bukan asosiasi jurnalis, juga bukan asosisasi pemimpin redaksi. Namun pada dunia digital, kami menyadari model bisnis media yang sehat akan menentukan kualitas jurnalismenya. Pada 23 November 2022, AMSI juga meluncurkan agensi periklanan digital sebagai program yang diamanatkan Kongres 2020 dan Rakernas 2021. Ini adalah bagian dari strategi AMSI menyehatkan ekosistem bisnis media siber di Indonesia, khususnya bagi media anggota AMSI yang berbasis di daerah.

Agensi itu menurut Wenseslaus tidak akan memasukkan inventori media besar dan tidak bermain di wilayah direct ads. Agensi yang dibangun AMSI akan fokus menarik programmatic ads, di mana kerap dijumpai iklan brand bagus tapi salah landing di media abal-abal, situs judi atau media yang menyebar ujaran kebencian. Praktek iklan yang salah sasaran itu yang ingin diperbaiki AMSI. Namun untuk memastikan implementasinya dipahami dan disetujui semua anggota, aktivasi agency ini akan dibahas dalam Kongres AMSI mendatang.

Pada akhir 2022, Wenseslaus menjelaskan pengurus AMSI juga menerima pengaduan soal nama media anggota yang mirip atau meniru-niru brand media tertentu. Karena media yang diadukan juga memiliki badan hukum, merknya resmi terdaftar dan sudah terverifikasi faktual oleh Dewan Pers maka Pengurus AMSI memutuskan persoalan ini akan diselesaikan di forum organisasi tertinggi, yakni kongres.

Pada akhirnya, semua media berhak menentukan asosiasi mana yang menjadi wadahnya beraktivitas dan menyalurkan aspirasi, atau juga sama sekali tidak masuk asosiasi manapun. Sekali lagi terimakasih untuk 15 media yang mundur per 28 Juli ini, atas sumbangsih turut mewarnai perjalanan membesarkan AMSI. "AMSI akan terus konsisten membesarkan industri media digital Indonesia agar makin sehat bisnisnya dan makin berkualitas kontennya, sebagaimana kita deklarasikan dan cita-citakan bersama," imbuh Wenseslaus.

Sebelumnya sebanyak 15 media siber yang tergabung dalam AMSI memutuskan keluar dari keanggotaan AMSI. Salah satu alasan keluar yakni dinamika yang terjadi di AMSI dinilai tak lagi sejalan dengan tujuan awal ketika 15 media itu bergabung.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info