“Standar profesi tetap kita bahas secara khusus. Tapi dalam kerangka transformasi ini, peningkatan standar itu sudah menjadi keniscayaan,” ujarnya.
Selain aspek pendidikan, Kukuh juga menyoroti peran teknologi dalam praktik hukum sehari-hari. Ia mengakui bahwa platform Hukumonline sangat membantu, terutama dalam pencarian regulasi dan pembaruan informasi hukum yang dikirim secara berkala.
“Kadang kita tidak sempat mencari sendiri, tapi dengan adanya update seperti itu, kita jadi tahu perkembangan terbaru dan bisa langsung tindak lanjuti,” katanya.
Terkait pemanfaatan teknologi yang lebih luas, termasuk kecerdasan buatan (AI), Kukuh memandang penggunaannya sebagai alat bantu yang bersifat suportif. Ia menegaskan AI dapat dimanfaatkan untuk riset atau brainstorming, namun tidak boleh menggantikan analisis utama yang menjadi tanggung jawab profesional hukum.
“AI itu membantu, tapi bukan untuk menggantikan. Tetap harus ada pemahaman dan pembacaan langsung terhadap peraturan,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap kolaborasi antara HKHSK dan Hukumonline dapat berjalan sinergis dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, sekaligus mendorong peningkatan kualitas profesi konsultan hukum sektor keuangan secara berkelanjutan.
“Harapannya kita bisa menjadi lebih baik dan membangun sinergi antara HKHSK dan Hukumonline, sehingga ke depan kolaborasi ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kedua belah pihak,” pungkasnya.
















