Bertepatan 28 Oktober 2023 Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI) telah memasuki usia 99 tahun. Sebagai perguruan tinggi hukum tertua di Indonesia, FHUI yang era kolonial Belanda disebut Rechtshogeschool (RHS), telah berkontribusi positif terhadap pengembangan ilmu hukum tanah air. Berbagai tokoh bangsa, pemimpin perjuangan kemerdekaan dan pemimpin negara telah lahir dari FHUI. Sebut saja Mr Mohammad Yamin, Mr Soediman Kartohadiprodjo, Mr Amir Sjarifuddin, Mr Sjafruddin Prawiranegara, Mr Wilopo dan Mr Burhanuddin Harahap.
Perwakilan Guru Besar FHUI, Prof Harkristuti Harkrisnowo menyampaikan pencapaian FHUI selama ini menjadi momentum untuk merenungkan kembali tujuan utama arah pendidikan tinggi hukum kedepannya. Dinamika dan perkembangan masyarakat yang tinggi menuntut peran aktif dunia hukum khususnya pendidikan tinggi.
“Tahun ini usia FHUI sudah 99 tahun dan tahun depan bertepatan 100 tahun. Ada dua hal yang perlu dicermati yaitu ‘siapa kita?’ dan ‘mau kemana kita?’,” ujarnya dalam sambutannya pada acara Dies Natalis ke-99 FHUI di Depok, Jawa Barat pada Sabtu (28/10/2023).
Dia menegaskan, perlunya mencermati arah pendidikan hukum di tanah air. Menurutnya, lembaga pendidikan bukan sebagai produsen ahli hukum tapi juga memberi usulan atau gagasan melalui Tridharma Pendidikan Tinggi. Apalagi belakangan kalangan masyarakat hukum menyaksikan prahara konstitusional.
“Kita saksikan lembaga hukum dan penegak hukum yang bertindak mengabaikan rasionalitas,” katanya.
Baca juga:
- Profil 3 Delegasi FHUI, Juara I Hukumonline Legal Opinion Competition 2023
- FHUI Kembali Raih Peringkat Pertama PTN Pencetak Partner Law Firm Terkemuka
- Akademisi FHUI Paparkan Berbagai Tantangan Implementasi RUU Perampasan Aset
Mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Hak Asasi Manusia (HAM) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) itu mengatakan, pengembangan kurikulum merupakan kunci pendidikan tinggi mampu adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Ilmu hukum berwawasan lingkungan, teknologi informasi hingga HAM merupakan contoh yang dibutuhkan saat ini. Selain itu, pendekatan interdisipliner dan berkolaborasi dengan bidang ilmu pengetahuan lain merupakan strategi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baginya, FH harus mengakomodir bukan hanya ilmu hukum, tapi juga lingkungan hidup, teknologi, hak asasi manusia dan lain-lain. Sebab, kurikulum harus dinamis menggabungkan pelajaran berdasarkan pengalaman, studi kasus dan simulasi yang dapat diterapkan di dunia nyata, harus interdisipliner, serta berkolaborasi dengan ilmu lain. Dia berharap pendidikan tinggi hukum khususnya FHUI dapat menghasilkan lulusan berkompeten tinggi, adaptif serta beretika dan bernurani yang berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.
Di tempat yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Abdul Haris mengapresiasi atas pencapaian FHUI yang telah berkontribusi positif baik bangsa dan universitas. Menurutnya, FHUI menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal. Seperti tantangan FHUI agar terus meningkatkan kualitasnya karena persaingan pendidikan tinggi hukum semakin ketat
Tapi begitu, Prof Abdul Haris bersyukur FHUI dinobatkan sebagai fakultas hukum terbaik di Indonesia melalui pemeringkatan Times Higher Education dan QS World University Ranking. “Ini semua berkat seluruh civitas akademika UI yang institusi terbesar di Indonesia jadi yang terbaik,” papar Abdul.
Menghasilkan lulusan berintegritas
Dekan FHUI, Parulian Paidi Aritonang menyampaikan FHUI merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya Indonesia. Dia menjelaskan para mahasiswa Rechtshogeschool memiliki kontribusi lahirnya Sumpah Pemuda. Dia membayangkan sumpah pemuda dibuat bersamaan dengan ulang tahun sekolahnya. Seperti Mr Mohammad Yamin dan Mr Amir Sjarifuddin (yang saat itu bersekolah di RHS).
“Jadi, kita diingatkan juga bahwa FHUI diupacarakan dan kemudiaan diingatkan kembali bahwa itulah sekolah yang diinginkan pribumi (warga Indonesia),” papar Parulian.
Menurutnya, FHUI berupaya terus menghasilkan lulusan yang tidak hanya ahli hukum tapi juga memiliki integritas. Karena itulah FHUI bakal terus mendorong para mahasiswanya belajar dan aktif. Setidaknya agar mereka tidak hanya menjadi ahli hukum kompeten tapi juga pemimpin di tengah masyarakat yang berani mengambil risiko, dan berinovasi.
“Dan ciptakan perubahan positif di masyarakat,” katanya.
Ketua Ikatan Alumni FHUI, Rapin Mudiardjo menyampaikan berharap prestasi saat ini dapat terus meningkat kedepannya. Dia menjelaskan FHUI berperan memperbaiki iklim hukum di Indonesia yang tercemar karena kepentingan pragmatis kelompok tertentu. Terlebih, Indonesia memasuki tahun politik pada 2024 sehingga hukum rawan disalahgunakan.
Rapin mengingatkan, di tahun politik agar hukum tetap berjalan tanpa terpengaruh dengan ambisi politik kekuasaan. Maklum, belakangan hukum di tanah air dalam situasi distorsi, penyimpangan, pemutarbalikan fakta, aturan dan sebagainya. Oleh karenanya masyarakat hukum mesti meluruskan kembali sesuai koridornya.
“Banyak perilaku menyimpang penegak hukum jadi catatan kita, memulai kembali di mana kita berada untuk melangkah ke depan. Dan kita mulai dari FHUI yang harus melahirkan pemikiran-pemikiran orisinil,” pungkasnya.
















