Kualitas Riset Tak Bisa Diukur dari Scopus, Akademisi Tekankan Pentingnya Kaidah Akademik
Utama

Kualitas Riset Tak Bisa Diukur dari Scopus, Akademisi Tekankan Pentingnya Kaidah Akademik

Publikasi internasional tetap penting, namun bukan satu-satunya ukuran reputasi.

Willa Wahyuni
Bacaan 3 Menit

“Kemampuan bahasa Inggris masih terbatas, kualitas penulisan ilmiah pun sering dinilai belum memadai. Banyak dosen juga belum terbiasa menggunakan perangkat seperti Mendeley. Di sisi lain, beban administratif seperti akreditasi atau kepanitiaan kampus mengurangi fokus mereka dalam menulis karya ilmiah,” jelas Ronny.

Ia menilai insentif bagi publikasi dan pengelola jurnal masih minim. Bahkan sering terhambat oleh politik kampus. Untuk kemajuan sebuah pengelolaan jurnal, menurutnya akan lebih baik jika para pengelola jurnal terlepas dari politik kampus agar tidak memiliki bentrok kepentingan.

Jaga integritas

Sementara itu, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Ilham Akhsanu Ridlo menyoroti pentingnya menjaga integritas akademik di tengah tekanan publikasi. Menurutnya jurnal bereputasi tidak bisa hanya diukur dari label prestise, seperti indeks Scopus. Lebih penting adalah bagaimana sebuah artikel dibangun baik sejak dari hulu hingga hilir.

“Faktor penilaian lainnya adalah apakah data yang digunakan benar, metode penelitian tepat, proses review dilakukan dengan baik, hingga penerbitannya sesuai standar. Scopus atau indeksasi lain tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur kualitas ilmiah,” ujarnya.

Ilham melanjutkan, saat ini faktanya banyak artikel di jurnal terindeks internasional yang tetap memiliki masalah, sehingga penilaian harus kembali pada kaidah dasar akademik. Kemudian terkait kebijakan angka kredit, perlu dipahami kembali apa sebetulnya tujuan profesi dosen itu sendiri.

Indikator penelitian tidak bisa disederhanakan menjadi satu ukuran semata. Pada akhirnya, mahasiswa lebih merasakan interaksi langsung dengan proses belajar dengan dosen. Sementara penelitian dan publikasi dosen berperan dalam menguji relevansi teori, baik di tingkat global maupun nasional.

Secara keseluruhan, para akademisi sepakat bahwa publikasi internasional tetap penting, namun bukan satu-satunya ukuran reputasi. Reformulasi indikator penelitian diperlukan agar lebih seimbang, dengan menilai kontribusi nyata penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan masyarakat, bukan sekadar angka kuantitatif.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info