Menulis artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi kini menjadi keharusan bagi akademisi di Indonesia, seiring meningkatnya tuntutan administratif. Seperti kenaikan jabatan, akreditasi program studi, hingga penilaian kinerja dosen. Namun menembus jurnal internasional bereputasi bukan sekadar urusan administrasi. Lebih dari itu, dibutuhkan niat tulus, strategi yang tepat, dan pemahaman mendalam terhadap dinamika akademik global.
Akademisi Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH Unnes), Saru Arifin mengatakan motivasi paling mendasar dalam menulis artikel ilmiah terbagi menjadi dua kategori besar. Yakni altruism dan self-interest. Motivasi tersebut dapat diimplementasikan saat hendak menulis jurnal ilmiah. Namun menurutnya, altruism merupakan motivasi yang ideal karena berkaitan dengan komitmen dan ketulusan akademisi untuk menyumbangkan sesuatu bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
“Jurnal yang digerakkan oleh motivasi tulus justru sering memberikan manfaat pribadi yang lebih besar. Saat artikel kita terbit di jurnal bereputasi, itu meningkatkan kredibilitas kita sebagai akademisi,” kata Saru saat memaparkan materi dalam Coaching Clinic FH Universitas Jambi dan FH Universitas Singaperbangsa Karawang yang diselenggarakan Hukumonline, Selasa (22/7/2025).
Baca juga:
- Dosen Hukum Wajib Tahu! Strategi Menulis dan Menerbitkan Jurnal Ilmiah Berkualitas
- Tak Sekedar Terindeks Scopus, APJHI Fokuskan Jurnal Hukum pada Kualitas dan Etika Publikasi
Saru membagikan sejumlah strategi teknis untuk menembus jurnal internasional. Menurutnya, langkah awal adalah discovering idea, menemukan ide yang relevan dan segar. Di tahap ini penulis harus peka dan reflektif. Setelah itu, barulah penulis melakukan studi literatur untuk menemukan research gap atau celah dalam penelitian sebelumnya yang belum dijawab.
“Tugas kita sebagai peneliti adalah mengisi celah itu dengan argumen dan temuan baru,” jelasnya.
Dalam penyusunan judul, Saru menyarankan agar judul dibuat menarik, ringkas, dan representatif dengan menghindari kata-kata seperti analisis atau kajian yang terlalu generik. Sementara abstrak harus mampu merangkum keseluruhan isi artikel secara padat dan jelas.
“Abstrak adalah jendela tulisan kita. Kalau tidak kuat, naskah bisa langsung ditolak editor,” ujarnya.
















