Di bagian isi, dosen hukum internasional Unnes itu menekankan pentingnya struktur logis dan argumentasi yang konsisten, bukan sekadar deskripsi. Terlebih lagi dalam bagian latar belakang atau introduction yang biasanya menjadi kesalahan umum penulis pemula dengan memasukkan kalimat dan paragraf yang terlalu panjang.
“Banyak artikel yang saya review, bagian latar belakang bisa sampai enam halaman. Itu tidak efektif. Artikel ilmiah harus ringkas, fokus, dan langsung ke persoalan,” imbuhnya.
Sementara itu, akademisi FH Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Mailinda Eka Yuniza memaparkan strategi kunci dalam publikasi jurnal ilmiah dengan menargetkan target publisher jurnal sejak awal. Mengingat, setiap jurnal memiliki pendekatan, format, dan cakupan tema yang berbeda.
“Kalau kita tidak pahami ‘aim and scope’ jurnal, kitab isa kerja dua kali karena naskah harus diubah total,” terangnya.

Akademisi FH UGM, Prof Mailinda Eka Yuniza. Foto: Tangkapan layar zoom
Prof Mailinda mengingatkan tentang bahaya jurnal predator yang menjanjikan publikasi cepat dengan biaya tinggi namun tanpa proses review yang memadai. Untuk itu, penulis dapat menggunakan Beall’s List, cek Scopus, SJR, atau DOAJ untuk memastikan publisher jurnalnya bereputasi.
Dia mencontohkan jurnal seperti Sriwijaya Law Review yang walaupun lokal, sudah terindeks Scopus dan masuk kuartil dua (Q2). Namun tantangan utamanya adalah masa tunggu yang panjang karena banyaknya naskah masuk dan proses seleksi yang ketat. Selain itu, penggunaan perangkat lunak seperti Zotero dan Mendeley diperlukan untuk membantu manajemen referensi. Tools ini memungkinkan penulis dengan mudah mengubah format kutipan sesuai kebutuhan jurnal.
“Kalau jurnal pertama minta APA style dan jurnal kedua minta MLA, tinggal ganti saja di Zotero,” katanya.
















