Menulis karya ilmiah sering dianggap sebagai aktivitas berat yang hanya dilakukan kalangan akademisi senior. Padahal sebenarnya, menulis ilmiah dapat dimulai dari ide-ide sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti melalui diskusi, menonton tayangan di televisi, atau saat bermain media sosial.
“Ide menulis itu sangat cair. Bisa muncul saat menonton Youtube, membaca berita online, atau berdiskusi informal,” kata akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH Unnes), Saru Arifin saat menjadi pemateri ‘Coaching Clinic Bimbingan Penulisan Jurnal Internasional FH Universitas Islam bandung dan FH Universitas Kristen Satya Wacana’ secara daring, Rabu (25/6/2025).
Meski ide bisa datang dengan mudah, Saru menegaskan pentingnya proses seleksi. Tidak semua ide layak dijadikan artikel ilmiah. Menurutnya ide yang menarik akan memudahkan penulis untuk mempersempit fokus ke satu fenomena yang bisa diteliti lebih lanjut.
“Kita harus pilih yang relevan dengan keahlian kita, atau yang punya potensi kontroversial dalam aspek hukum atau sosial,” jelasnya.
Baca juga:
- Simak! Tips Menulis Artikel Ilmiah Berkualitas
- Ini Langkah Konkret untuk Meningkatkan Kualitas dan Visibilitas Jurnal Hukum Nasional
- Tak Cukup Terbit Rutin, Ini Strategi Meningkatkan Visibilitas Jurnal Hukum
Dia mengajak akademisi untuk memulai proses menulis dari kajian literatur yang kuat. Baginya, literatur bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting dalam menentukan arah tulisan. Jika topik yang hendak dibahas telah dibahas orang lain, dapat mencari celah aspek-aspek lain, tapi belum dibahas sehingga dapat ditambahkan dalam tulisan.
Secara teknis, Saru menyoroti soal banyak penulis pemula terjebak pada pengantar panjang tanpa arah. Untuk itu, perlu ditekankan bahwa pendahuluan yang singkat dan langsung masuk ke inti masalah itu sangat penting. Baginya pendahuluan tak perlu panjang, cukup tiga halaman.
















