Nama Prof. Mochtar Kusumaatmadja telah lama dikenal luas di kalangan insan hukum, khususnya mereka yang mengkaji hukum internasional. Jejak pengabdiannya membentang panjang, dari dunia akademik hukum internasional sampai dengan panggung kenegaraan, memperjuangkan kepentingan Indonesia dalam berbagai forum global.
Bagaimana tidak? Sosoknya tak terpisahkan dari Deklarasi Djuanda 1957, sebuah catatan bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus penegakan kedaulatan Ibu Pertiwi. Deklarasi itu menjadi tonggak penting yang kelak berkembang menjadi konsep negara kepulauan, gagasan yang diusung dan diperjuangkan olehnya hingga akhirnya diakui dalam Konvensi Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.
Atas jasa besarnya, Prof. Mochtar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 2025 lalu oleh Presiden RI. Kisah hidup dan perjuangannya selama lebih dari dua dekade itu kini diabadikan dalam film 12 Mile: Guiding the Archipelago. Film tersebut pertama kali diputar dalam penayangan yang digelar secara eksklusif di Djakarta Theater XXI.
Baca Juga:
- Kontribusi Besar Prof Mochtar Kusumaatmadja Terhadap Pendidikan Hukum
- Mengulas Intisari Teori Hukum Pembangunan Prof Mochtar Kusumaatmadja
“Mungkin pertama-tama kami sampaikan bahwa tujuan dari acara ini adalah first screening. Jadi Ibu-ibu dan Bapak-bapak semua itu kami pandang sebagai stakeholder utama dari film Prof. Mochtar,” ujar Produser Eksekutif, M. Agus Imanuddin, di hadapan ratusan penonton di Studio 1, Selasa (4/2) malam.
Film ini melibatkan banyak pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan Prof. Mochtar, mulai dari keluarga hingga rekan-rekan akademisi Universitas Padjadjaran. Sejumlah nama yang muncul dalam film antara lain putra Prof. Mochtar yakni Rachmat Askari Kusumaatmadja, Prof. Armida Alisjahbana, Prof. Etty R. Agoes, Prof. Mieke Komar, Prof. Djuhaendah Hasan, Prof. Edy Damian, Prof. Rina Indiastuti, serta tokoh-tokoh terkemuka lainnya.
Ratusan orang dari berbagai latar belakang tampak memadati bangku penonton studio. Hadir perwakilan sivitas akademika Universitas Padjadjaran, Kementerian Luar Negeri RI, serta sejumlah kalangan yang mengikuti perjalanan perjuangan Prof. Mochtar. Agus menuturkan bahwa film yang telah digarap dari akhir tahun 2024 ini menjadi bagian dari upaya panjang mendorong pengakuan negara atas jasa Prof. Mochtar.
















