“Pelanggaran serius hukum humaniter internasional,” katanya.
Data dari otoritas media Gaza yang dikelola Hamas mengungkapkan bahwa 238 jurnalis telah tewas sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023 lalu. CPJ mencatat sedikitnya 186 jurnalis menjadi korban jiwa dalam konflik ini, angka tertinggi dalam sejarah liputan perang modern.
Jurnalis independen asal Jerman, Hanno Hauenstein menilai pembunuhan jurnalis di Palestina tidak lepas dari pola pelabelan mereka sebagai ‘teroris’ oleh Israel. Tuduhan tersebut seringkali tidak didukung bukti dan berfungsi untuk mencabut status sipil wartawan, sehingga kematian mereka tampak ‘dapat dibenarkan’ di mata publik.
“Jurnalis bukan target yang sah. Membunuh mereka adalah kejahatan perang,” tegasnya sebagaimana dilansir the Guardian.
Dia menyoroti bagaimana media besar di Jerman kerap menjadi jembatan narasi Israel, seperti dalam pemberitaan harian Bild milik Axel Springer. Media terbesar di Eropa itu memuat foto Al Sharif dengan judul awal ‘Teroris Menyamar sebagai Jurnalis Tewas di Gaza’ sebelum kemudian diubah menjadi ‘Jurnalis yang Tewas Diduga Teroris’.
“Judul seperti itu menghapus identitas seorang wartawan dan menggantinya dengan stigma yang membunuh,” ujarnya.
Kasus lainnya, Bild dan Süddeutsche Zeitung juga pernah menuding fotograper Palestina Anas Zayed Fteiha merekayasa foto warga Gaza yang kelaparan untuk propaganda Hamas. Tuduhan tersebut kemudian disebarkan oleh Kementerian Luar Negeri Israel sebagai bukti manipulasi.
Kontroversi semakin memanas setelah Asosiasi Jurnalis Jerman (The Deutscher Journalisten Verband/DJV) meragukan kebenaran foto anak-anak Gaza yang kurus kering, mengklaim kondisinya bukan akibat kelaparan tanpa bukti yang jelas.
















