Perang Dagang AS-China Picu Krisis Rantai Pasokan, Ini Dampaknya ke Indonesia
Utama

Perang Dagang AS-China Picu Krisis Rantai Pasokan, Ini Dampaknya ke Indonesia

Ekonomi dunia saat ini sudah sangat terhubung. Tidak ada negara yang benar-benar bisa mandiri dalam produksi. Bahkan kebutuhan dasar Indonesia seperti gandum dan kedelai bergantung pada impor.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 3 Menit
Ketua Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Aria Suyudi. Foto: HFW
Ketua Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Aria Suyudi. Foto: HFW

Memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan China bukan sekadar pertikaian antara dua kekuatan besar dunia, melainkan sebuah guncangan besar yang berpotensi mengubah struktur dasar sistem perdagangan internasional.

Ketua Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Aria Suyudi, menyoroti bahwa meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan China dalam konflik dagang ini. China diketahui menjadi negara yang paling keras menentang kebijakan tarif resiprokal dari AS. Ketika Trump menetapkan tarif sebesar 34 persen terhadap produk China, Beijing merespons dengan tarif balasan sebesar 34 persen pula. Ketegangan meningkat ketika AS kembali menaikkan tarif terhadap produk China hingga mencapai 104 persen.

“China membalas dengan menaikkan tarif hingga 84 persen. Mereka sama sekali tidak bergeming, bahkan Menteri Luar Negeri mereka mengatakan, ‘we will fight until the end’. Artinya, mereka siap menghadapi konsekuensi terburuk dalam perang dagang ini,” ujar Aria kepada Hukumonline, Jumat (11/4).

Baca Juga:

Selain itu, Aria mengingatkan bahwa perang tarif ini tak hanya berdampak pada dua negara besar tersebut, tapi juga berpengaruh besar terhadap rantai pasokan global dan harga kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Ekonomi dunia saat ini sudah sangat terhubung. Tidak ada negara yang benar-benar bisa mandiri dalam produksi. Bahkan kebutuhan dasar kita seperti gandum dan kedelai pun bergantung pada impor,” jelas Aria.

Ia mencontohkan, Indonesia merupakan salah satu importir gandum terbesar di dunia, yang mana bahan baku utama bagi berbagai makanan pokok masyarakat seperti mie instan, martabak, dan roti. Menurut Aria, gandum mayoritas dipasok dari negara-negara empat musim seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina. Selain gandum, komoditas lain yang sangat terdampak adalah kedelai, bahan baku utama tempe, tahu, dan kecap.

Halaman Selanjutnya:
Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info