Tajuk

Perang Satu Orang

Menghentikan perang adalah cara paling bermartabat. Menghentikan penderitaan bangsa manapun dari dampak perang adalah cara paling manusiawi.

Oleh:
RED
Bacaan 7 Menit

Semua jaminan itu diberikan dalam konteks penyatuan Jerman Timur dengan Jerman Barat, semacam persyaratan diperolehnya persetujuan USSR, bahwa unifikasi Jerman tidak akan mengancam keamanan USSR, satu inci-pun. Walaupun tidak tertulis, tetapi mungkin Putin percaya dengan ekspresi “your word is your bond”. Putin menganggap Barat cidera janji dengan memperluas jaringan NATO ke Timur (Polandia, Hungaria, Republik Czech, Bulgaria, Estonia, Latvia, Lithuania, Rumania, Slovakia, Slovenia, Albania, Kroasia, Montenegro, dan Macedonia Utara yang menjadi anggota). Belakangan, NATO mengakui aspirasi sejumlah negara untuk juga bergabung, yaitu Bosnia dan Herzegovina, Georgia dan Ukraina. Putin menganggap serbuannya ke Ukraina justified, karena merupakan tindakan bela diri tanah airnya, Mother of Russia. Ukraina menganggapnya agresi. Dunia pun terbelah. Sebagian besar mengutuknya. PBB-pun mengutuknya.

Walaupun perang dunia III secara militer tidak, atau belum pecah, perang dunia lainnya dalam bentuk lainnya sudah terjadi, dan kita yang hanya seekor pelanduk, terancam terinjak di tengah. Serbuan Rusia ke Ukraina direspons dengan kutukan dan boikot atau sanksi ekonomi, sosial, dan budaya dari berbagai penjuru. Sanksi ekonomi membuat rantai pasokan terganggu, bukan hanya di negara yang berperang, tetapi juga mereka yang tidak tahu menahu.

Kebijakan AS dan Eropa pada akhirnya tidak hanya menghukum Rusia dan rakyatnya yang tidak berdosa, tetapi secara tidak langsung juga menghukum Ukraina, rakyat Ukraina, dan rakyat AS dan Eropa sendiri, serta konsumen di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang sangat tergantung dari bahan-bahan impor, utamanya pangan dan energi. Rusia (20%) dan Ukraina (10%) adalah penghasil gandum terbesar dunia. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara adalah pengimpor terbesar. Perang ini menyebabkan petani Ukraina berhenti menanam, sebagian harus maju berperang. Pelabuhan-pelabuhan untuk tujuan ekspor ditutup atau hancur. Ketika perang terjadi di ladang-ladang, kota-kota, dan jalan-jalan di Ukraina, maka penduduk di Mesir, Lebanon, Tunisia, Yaman, dan banyak negara lain, turun ke jalan untuk mengantri gandum dan roti karena kelangkaannya mulai terasa.

Semakin lama perang terjadi, semakin tinggi ancaman pertahanan pangan dunia terjadi. Bahaya kelaparan sudah mulai membayang. Penduduk negara berkembang dan negara maju dengan penghasilan rendah juga terancam karena biaya pangan masih merupakan bagian yang besar dari pengeluaran belanja mereka. Rusia juga penghasil energi dunia yang sangat besar. Rusia menghasilkan 23% gas alam dunia, dan 40% dari kebutuhan Uni Eropa diimpor dari Rusia. Kelangkaan gas alam dari Rusia di pasar meningkatkan inflasi, dan tingginya inflasi meningkatkan harga pangan. Lagi-lagi yang menderita adalah rakyat dunia berpenghasilan rendah, di manapun mereka berada.

Pemimpin negara-negara maju yang memberikan sanksi sekarang repot menjelaskan kepada rakyatnya sendiri bahwa keputusan mereka tidak bisa semata dilihat dari kepentingan menjaga demokrasi dunia, tetapi juga harus dilihat bagaimana rakyatnya ikut menanggung keputusan-keputusan tersebut. Mungkin Putin tahu ini, dan memanfaatkannya dalam konflik ini. Karenanya perang harus diakhiri, bukan hanya untuk memberi kesempatan rakyat Ukraina menentukan apa yang terbaik buat Ukraina, bukan hanya untuk meyakinkan Rusia bahwa mereka cukup aman karena sejumlah tuntutannya atas netralitas Ukraina terpenuhi, tetapi juga buat semua rakyat di pelosok dunia yang terancam kelaparan dan menurun kualitas kehidupannya.

Setiap perang pasti dilandasi oleh alasan yang dicoba untuk dijustifikasi oleh pencetusnya. Alasan itu bisa untuk mendapatkan manfaat ekonomis, memperluas teritori, karena konflik agama, untuk balas dendam, kebangkitan paham nasionalisme, revolusi kemerdekaan, mempertahankan diri, maupun karena urusan sepak bola. Ya, sepakbola. Pada tahun 1969 terjadi perang singkat (La Guerra del Futbol) antara El Salvador dan Honduras gara-gara kerusuhan yang terjadi pada babak kualifikasi kejuaraan dunia FIFA. AS dan atau Barat tentu juga punya alasan sendiri kenapa mereka harus menyerang dan menduduki Granada, Palestina, Kuba, Korea, Vietnam, Irak, Libya, Afghanistan, Suriah, dan banyak negara lain. Belum lagi pendudukan dan penjajahan di masa kolonial. Indonesia di masa orde baru mungkin juga punya alasan menyerbu dan menduduki Timor Timur.

Pertanyaan besarnya, apakah penyerbuan, pendudukan, dan peperangan dan kekejaman yang terjadi selama perang bisa dijustifikasi dari sudut pandang hukum, hubungan internasional, perdamaian dunia, dan kemanusiaan? Hukum internasional, yang lebih banyak sisi tumpulnya, tidak cukup menjangkau masalah ini, karena kepentingan-kepentingan antara pihak yang berperang, yang sangat bisa lentur dan berbenturan. PBB sendiri sudah dianggap gagal menjaga perdamaian dunia. Gagal mencegah dan menindak Rusia dan AS yang justru lebih agresif dan invasif.

Tags:

Berita Terkait