Kemampuan menjadi pemimpin di era global tidak lagi ditentukan semata oleh spesialisasi. Kemampuan menghubungkan berbagai sektor, disiplin ilmu, dan kepentingan justru menjadi faktor kunci dalam menciptakan nilai tambah di dunia profesional.
Memulai karier sebagai pengacara pada 1995, Senior Partner dan Co-Founder Dentons Hanafiah Ponggawa & Partners (Dentons HPRP), Andre Rahadian kini menjadi bagian dari jaringan firma hukum global di 88 negara. Dia menilai pola karier masa depan tidak selalu berjalan secara linear.
“Profesional yang menciptakan nilai paling besar di organisasi global belum tentu mereka yang paling dalam menguasai satu bidang yang sangat spesifik. Justru mereka yang mampu menghubungkan berbagai sektor, negara, dan fungsi organisasi,” ujar Andre dalam sesi diskusi The 4th Universitas Indonesia Employer Forum, pada Rabu (24/6/2026).
Andre mencontohkan perjalanan kariernya melintasi berbagai sektor. Mulai dari penerbangan, infrastruktur, proyek kemitraan pemerintah dan badan usaha, hingga teknologi finansial dan sistem pembayaran digital. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman yang lebih luas tentang cara berbagai sistem bekerja.
Baca juga:
- Kualitas Kampus Tak Lagi Diukur dari Ruang Kelas, tapi Kiprah Lulusan di Dunia Kerja
- Menuju Re-Akreditasi 2029, Pascasarjana Universitas Borobudur Siapkan Lompatan Mutu Akademik
Dari industri penerbangan, ia belajar pentingnya keselamatan dan manajemen risiko. Sementara dari perbankan, pentingnya kepercayaan dan kehati-hatian. Sedangkan dari sektor infrastruktur, pengelolaan pemangku kepentingan dan investasi jangka panjang.
Menurut Andre, inovasi kerap lahir dari pertemuan berbagai disiplin ilmu. Karena itu, pemimpin masa depan perlu mampu beradaptasi di berbagai konteks tanpa kehilangan kualitas dalam pengambilan keputusan.
Andre juga menyoroti kecenderungan korporasi memandang kompleksitas sebagai sesuatu yang harus dihindari. Padahal, dalam praktik bisnis global, kompleksitas merupakan bagian dari realitas sehari-hari.
Menurutnya, perusahaan kini harus menghadapi berbagai regulator, yurisdiksi, budaya kerja, serta perkembangan teknologi yang sering kali bergerak lebih cepat daripada regulasi yang mengaturnya.
“Pemimpin yang berhasil bukan mereka yang selalu menemukan jawaban hitam-putih, tetapi mereka yang mampu memahami berbagai kemungkinan dan menawarkan sejumlah opsi penyelesaian,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Andre menilai lulusan Universitas Indonesia memiliki modal yang kuat. Keragaman sosial, budaya, dan ekonomi di Indonesia secara tidak langsung membentuk kemampuan adaptasi terhadap situasi yang kompleks.
Selain kemampuan mengelola kompleksitas, ia menilai karakter menjadi faktor yang semakin penting di era transformasi digital. Pasalnya, banyak pekerjaan kini dilakukan bersama rekan kerja dan klien di berbagai negara tanpa pertemuan tatap muka.
Dalam kondisi tersebut, integritas, konsistensi, kerendahan hati, rasa ingin tahu, dan ketangguhan menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan dan hubungan profesional.
“Pada akhirnya, yang dinilai bukan hanya kredensial akademik, tetapi juga karakter dan kemampuan membangun kepercayaan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Andre mengingatkan perusahaan agar tidak hanya menilai lulusan dari indeks prestasi atau latar belakang pendidikan. Dunia usaha perlu menyediakan ruang belajar melalui program magang dan pelatihan agar lulusan dapat memahami dunia kerja secara langsung dan mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan.
“Tidak ada lulusan yang langsung siap sepenuhnya. Karena itu perusahaan perlu ikut berperan dalam menyiapkan mereka melalui kesempatan belajar dan pengalaman kerja nyata,” katanya.
Tantangan mahasiswa Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Nadhira Afifa, mengatakan salah satu tantangan yang masih dihadapi mahasiswa Indonesia adalah rendahnya kepercayaan diri untuk tampil dan bersaing di tingkat global.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Nadhira Afifa. Foto: WIL
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi pola pembelajaran yang masih cenderung berpusat pada pengajar, sehingga siswa terbiasa menerima materi secara pasif.
“Di banyak lingkungan pendidikan internasional, pendekatannya lebih student-centered. Mahasiswa dituntut datang ke kelas dalam keadaan siap berdiskusi, sementara dosen berperan sebagai fasilitator yang memancing pertukaran gagasan. Di situlah proses pembelajaran yang sesungguhnya terjadi,” ujarnya.
Meski demikian, Nadhira melihat perkembangan positif pada generasi muda Indonesia. Saat berkunjung ke Boston beberapa waktu lalu, ia menemukan semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berhasil menembus perguruan tinggi kelas dunia.
Ia juga menilai peran mentor sangat penting dalam membantu mahasiswa memperluas perspektif dan membangun kepercayaan diri untuk bersaing di tingkat global. Selain itu, keterbukaan akses informasi melalui media sosial memungkinkan generasi muda melihat lebih banyak contoh keberhasilan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.
“Sekarang kita bisa melihat banyak orang yang berhasil mencapai hal-hal luar biasa. Akses terhadap informasi dan panutan seperti itu sangat membantu generasi muda untuk berani bermimpi lebih besar,” pungkasnya.
















