Rocky Gerung: Kampus Harus Meluruskan Cara Berpikir di Era AI
Terbaru

Rocky Gerung: Kampus Harus Meluruskan Cara Berpikir di Era AI

Peran AI sebagai aktor baru dalam politik internasional, khususnya terkait perebutan energi. Mesin-mesin AI mengonsumsi energi dalam jumlah sangat besar dan memicu kompetisi global atas sumber daya.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 3 Menit
Pengamat politik dan akademisi, Rocky Gerung dalam kuliah umum bertajuk Dialektika & Retorika: Logika dan Nalar di Era Artificial Intelligence yang digelar di UNMAS Denpasar, Selasa (6/1). Foto: tangkapan layar zoom
Pengamat politik dan akademisi, Rocky Gerung dalam kuliah umum bertajuk Dialektika & Retorika: Logika dan Nalar di Era Artificial Intelligence yang digelar di UNMAS Denpasar, Selasa (6/1). Foto: tangkapan layar zoom

Pengamat politik dan akademisi, Rocky Gerung, menegaskan bahwa kampus memiliki peran fundamental dalam meluruskan cara berpikir publik, terutama di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, fungsi utama kampus adalah memastikan cara berpikir yang koheren. Koherensi, kata Rocky, merupakan inti dari berpikir logis dan sangat erat kaitannya dengan matematika sebagai disiplin yang hanya berurusan dengan kepastian penalaran.

“Kampus itu fungsi utamanya adalah meluruskan cara berpikir. Itu namanya memastikan ada koherensi. Soal koherensi ini urusan matematika, karena matematika hanya berurusan dengan koherensi dan kepastian penalaran,” jelasnya dalam kuliah umum bertajuk Dialektika & Retorika: Logika dan Nalar di Era Artificial Intelligence yang digelar di Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar, Selasa (6/1).

Baca juga:

Rocky kemudian mengaitkan prinsip koherensi dengan ilmu hukum dan filsafat positivisme. Ia menekankan bahwa dalil atau ayat hanya bisa disebut sahih apabila saling terkait secara logis dan tidak saling bertabrakan, sebagaimana diajarkan dalam tradisi pemikiran Hans Kelsen.

Namun, ia mengingatkan bahwa politik tidak bisa semata-mata dihasilkan dari logika yang koheren seperti matematika atau teori hukum murni. Politik, menurutnya, justru tumbuh dari pertentangan gagasan.

“Politik bukan matematik. Politik bukan dalil Hans Kelsen. Politik diasuh oleh pertentangan. Karena itu, sifat politik selalu dialektis,” tegasnya.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info