Privatisasi BUMN di Indonesia memang ibarat pisau bermata dua. Pada satu sisi, ia diyakini berguna untuk mengikis korupsi, meningkatkan efisiensi dan kompetisi, serta mengisi kantong kas negara yang tengah defisit. Namun di sisi lain, akan mengakibatkan penguasaan pemerintah terhadap suatu perusahaan beralih ke swasta (baca: asing).
Satu demi satu perusahaan milik negara yang memberikan layanan kepada publik ternyata telah diprivatisasi. Sayangnya, sektor-sektor yang telah atau akan diprivatisasi adalah sektor yang strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak. Sadar atau tidak sadar, sektor yang diprivatisasi mulai dari sektor perbankan, pertambangan, pengairan, kesehatan.
Privatisasi meningkatkan efisiensi?
Masalahnya, apakah setelah dilakukan privatisasi, akan tercipta kompetisi dan efisiensi, sehingga kualitas barang, layanan, atau jasa yang diberikan kepada publik akan semakin baik? Publik lah sebenarnya yang paling kompeten untuk menjawab pertanyaan ini.
Ambilah satu contoh, Perusahaan Air Minum (PAM), yang bertugas menyediakan layanan air bersih untuk masyarakat. Di Jakarta, PAM-Jaya menggandeng mitranya, Thames dan Suez-Lyonnaise. Keduanya adalah multinational corporation di bidang pengairan dari Inggris dan Perancis.
Setelah swasta ikut campur mengelola air di Jakarta, apakah layanan PAM Jaya semakin baik dan efisien, serta wong cilik semakin mudah mendapatkan akses atas air yang bersih? Apakah tarifnya kompetitif dan jarang sekali ada kenaikan?
Tampaknya, layanan yang diberikan oleh PAM belum efisien. Buktinya, masyarakat kerap mengeluh air PAM nya kerap mati atau kualitas air yang tidak memadai. Meskipun sudah mengadu, respons dari PAM seringkali lambat. Kalau sudah begitu, ke mana lagi konsumen akan mengadu.
Sementara di sisi lain, PAM malah terus menaikkan tarifnya. Pada 3 April 2003, dikabarkan bahwa Gubernur DKI merestui kenaikan tarif PAM sebesar 40%. Menurut Kepala Badan Regulator Air DKI, alasan kenaikan tarif karena kedua mitra PAM Jaya selama 6 tahun menjalin kerjasama belum mendapat imbalan yang memadai. Alasan lain kenaikan, adalah tingkat kebocoran yang masih tinggi.
















