Lulusan SHSI, lanjutnya, diharapkan tidak hanya menjadi praktisi hukum, tetapi juga memiliki fleksibilitas dalam menentukan karier, baik sebagai profesional, pengusaha, diplomat, maupun peneliti. “Yang terpenting adalah mahasiswa sadar dengan pilihannya dan siap menghadapi tantangan,” katanya.
Dalam jangka pendek, salah satu prioritas utama adalah meningkatkan jumlah mahasiswa baru melalui promosi yang lebih aktif kepada siswa sekolah menengah atas. Selain itu, SHSI juga tengah menyiapkan program pendidikan hukum bagi kalangan profesional, termasuk aparat penegak hukum dan auditor yang membutuhkan pemahaman aspek hukum dalam pekerjaannya.
Di sisi lain, peningkatan akreditasi juga menjadi target penting. Lulusan Doktor Hukum FH Universitas Indonesia itu menegaskan, pencapaian akreditasi "Unggul" akan membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas, seperti program joint degree dengan universitas luar negeri.
“Kalau kita sudah unggul, kita bisa lebih leluasa menciptakan program internasional, termasuk kerja sama dengan berbagai universitas,” katanya.
Adapun SHSI telah menjajaki kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi dalam dan luar negeri, termasuk program pertukaran dosen, pengembangan masyarakat, serta riset bersama. Salah satu fokus kerja sama adalah penguatan program berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pemberdayaan UMKM.
Dalam jangka menengah, SHSI juga berencana membuka program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan kelas karyawan guna menjangkau lebih banyak kalangan profesional yang ingin melanjutkan pendidikan hukum.
Terakhir, Sri menegaskan nilai-nilai yang ia pegang dalam kepemimpinan—yang ia bawa dari profesi sebelumnya sebagai seorang lawyer dan banker—yakni pentingnya membaca, menghargai waktu, serta menunaikan kewajiban secara tepat waktu. Menurutnya, tidak ada jalan pintas dalam proses belajar.
“Tidak ada pengganti dari membaca. Teknologi boleh membantu, tetapi proses belajar tetap harus dijalani,” pungkasnya.
















