Menurutnya, pemahaman terhadap budaya merupakan kunci keberhasilan investasi, terutama di Indonesia yang memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Pemahaman terhadap kearifan lokal memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan dan keberlanjutan investasi asing di suatu daerah. Sebab, investasi tidak hanya bergantung pada modal dan regulasi yang ada, tetapi juga pada kemampuan untuk beradaptasi dan menghormati nilai-nilai lokal.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Karya Bhakti Adhyaksa, Reda Manthovani, secara simbolis memberikan potongan tumpeng kepada Chairman Pusat Kajian Hukum, Kebudayaan, dan Investasi Indonesia Tiongkok, Ardilla Meytiara Intan, saat peresmian Sekretariat Pusat Kajian Hukum, Kebudayaan, dan Investasi Indonesia-Tiongkok di STIH Adhyaksa. Foto: HFW
Diharapkan, pendirian pusat kajian ini dapat semakin mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok, mengingat Tiongkok merupakan salah satu dari tiga negara dengan jumlah investasi asing terbesar di Indonesia. Pusat kajian ini memiliki empat fokus utama, ialah untuk melakukan kajian makro terkait iklim investasi dan hubungan bilateral.
Kemudian menangani serta menyelesaikan persoalan investasi melalui koordinasi lintas departemen dan daerah; memberikan konsultasi serta bantuan hukum dengan berkolaborasi bersama Pusat Bantuan Hukum STIH Adhyaksa dan firma hukum rekanan; serta mendukung keselarasan dokumen dan proses alih bahasa melalui penerjemah tersumpah.
“Harapan kami, Pusat Kajian Hukum, Budaya, dan Investasi Indonesia-Tiongkok dapat menjadi jembatan sekaligus reliable ally bagi pemerintah, investor, dan masyarakat dalam menumbuhkan investasi yang berkelanjutan dan berdaya, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal. Kami berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi nyata dalam memfasilitasi investasi yang tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga harmonis secara sosial dan budaya,” pungkasnya.
“Kita semua menyadari bahwa investasi Tiongkok telah menjadi salah satu motor penggerak pembangunan nasional. Berbagai kawasan industri strategis dan kawasan ekonomi khusus di sejumlah daerah menjadi bukti nyata bagaimana ekosistem modal mampu mempercepat industrialisasi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” tambah Ketua Yayasan Karya Bhakti Adhyaksa Prof. (HC) Dr. R. Narendra Jatna.
Meski membuka peluang yang sangat besar, menurutnya, kerja sama yang terjalin antara Indonesia dan Tiongkok masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Mulai dari ketidakpastian regulasi, birokrasi yang berbelit, tumpang tindih kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, hingga isu sosial yang kerap muncul di lapangan.
















