
Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung RI sekaligus Founder Pusat Kajian Hukum,
Kebudayaan, dan Investasi Indonesia Tiongkok, Narendra Jatna. Foto: HFW
Hambatan-hambatan tersebut sering kali menimbulkan keraguan bagi investor dan berdampak negatif bagi masyarakat. Karena itu, keberadaan Pusat Kajian Hukum, Kebudayaan, dan Investasi Indonesia-Tiongkok menjadi sangat penting sebagai jembatan yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sipil untuk membahas, mengkaji, serta menyusun rekomendasi berbasis bukti terkait investasi bilateral antara kedua negara.
“Melalui riset, advokasi, dan pendampingan strategis, pusat kajian ini diharapkan mampu membantu menjawab berbagai hambatan hukum sekaligus memperkuat harmonisasi regulasi agar investasi dapat berjalan lebih efektif, transparan, dan adil. Lebih jauh lagi, pusat kajian ini juga diharapkan menjadi mitra dalam memberikan masukan konkret terkait strategi kebijakan yang menjamin kesetaraan, perlindungan, dan kepastian bagi para pelaku usaha, sekaligus kepastian pemenuhan kewajiban bagi pihak-pihak terkait dan masyarakat,” harapnya.
Peluncuran Buku From Hong Kong to Fujian
Sebelumnya, STIH Adhyaksa diketahui telah melakukan academic visit ke Hong Kong hingga Tiongkok daratan yang menghasilkan sejumlah capaian penting. Pertama, penandatanganan nota kesepahaman dengan dua universitas terkemuka yakni Central China Normal University dan Fujian Polytechnic Normal University yang membuka peluang kerja sama dalam bentuk pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, serta kolaborasi berbagai program akademik.
Kedua, pemberian pendampingan dan literasi hukum bagi pekerja migran Indonesia di Hong Kong sebagai bentuk komitmen STIH Adhyaksa memberikan dampak nyata bagi masyarakat, di mana pun mereka berada, termasuk di Tiongkok. Selain itu, kunjungan tersebut juga membawa kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar STIH Adhyaksa, di mana Ketua Yayasan Adhyaksa, Profesor (Honoris Causa) Dr. R. Narendra Jatna, menerima penganugerahan gelar kehormatan dari Fujian Polytechnic Normal University.
“Memoar perjalanan academic visit yang dipimpin langsung oleh Profesor Narendra Jatna telah melahirkan berbagai refleksi dan gagasan strategis yang kami tuangkan dalam sebuah buku berjudul From Hong Kong to Fujian. Kami sangat bangga dapat meluncurkan buku ini bersamaan dengan peresmian pusat kajian,” ungkap Hasbullah.
Menurut Ketua STIH Adhyaksa itu, buku tersebut bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan dokumen penting yang merekam dinamika kerja sama akademik Indonesia-Tiongkok, analisis mendalam mengenai peluang dan tantangan harmonisasi sistem hukum, serta strategi konkret pengembangan investasi bilateral antara kedua negara.
















