“Israel mengambil alih sedikit demi sedikit wilayah Palestina,” tambahnya.
Pengacara Internasional asal Italia ini, menceritakan bahwa pemerintahan Palestina sudah terambil alih oleh militer. Militer digunakan sebagai penjaga keamanan dan segala jenis keamanan telah dilakukan. Para warga dan anak-anak Palestina sudah terbiasa hidup seperti itu.
Penyimpangan, kebrutalan, dan pelanggaran yang dilakukan Israel untuk mengambil wilayah palestina Israel menaruh tentara-tentaranya untuk menyerang warga Palestina adalah kejahatan.
“Ini adalah kejahatan yang menganggap peraturan internasional sebagai sebuah peraturan tanpa etik,” paparnya.
Albanese juga menilai apa yang telah dilakukan di West Bank (Tepi Barat Gaza) berbanding terbalik dengan isi Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Misalnya, tentara yang mengambil alih tempat tinggal para warga sipil dan menduduki tempat tersebut. Tentunya hal tersebut sangat aneh menurutnya.
“Kenapa harus ada pendudukan atas tanah sipil oleh militer? Kenapa begitu?” tanyanya.
Ia mengatakan, seharusnya hal tersebut dilarang. Dalam Konvensi Jenewa 1949, hal tersebut telah diatur mengenai Perlindungan Orang Sipil di waktu Perang yang tertuang dalam Konvensi nomor 4. Kondisi tersebut mengingatkan Albanese dengan ekspansi yang dilakukan Adolf Hitler dari Jerman. Hitler menduduki tanah orang lain. Lalu, menjadikan dirinya sebagai Presiden. Sama seperti yang dilakukan Israel.
“Israel telah mengambil tanah mungkin telah memusnahkan warga Palestina,” katanya.
Albanese menilai kondisi Palestina bergantung dalam sejumlah fragmentasi dan tak dapat hidup opresif. Teritorial Palestina yang saat ini seperti penjara. Gaza telah menjadi sebuah Ghetto, sebuah teritori yang terisolasi dan dikendalikan sepenuhnya oleh sistem yang menekan warga Palestina. Ketegangan yang meningkat dengan keberadaan sistem hukum yang tidak adil, menyebabkan warga Palestina tidak memiliki akses keadilan.
“Realita ini memperburuk keadaan yang dihadapi warga Palestina,” ucapnya.
Ia mengingatkan sering kali Gaza terlupakan oleh banyak pihak. Mereka hanya menjadi saksi bisu atas penderitaan rakyat Palestina. Sejak 2008 sampai 2023, wilayah ini telah dilanda 5 perang besar dengan Israel yang mengakibatkan banyak korban jiwa.
















