Tamara dan Runtuhnya Stigma Maskulin di Dunia Hukum
Hukumonline NeXGen Lawyers 2026

Tamara dan Runtuhnya Stigma Maskulin di Dunia Hukum

Perjalanan Tamara menunjukkan perubahan perspektif dari keraguan terhadap profesi lawyer yang dianggap maskulin menjadi keyakinan bahwa dengan resiliensi, fleksibilitas, dan integritas, perempuan memiliki peluang setara untuk sukses sekaligus mendorong inklusivitas dalam dunia hukum.

Tim Hukumonline
Bacaan 4 Menit
Associate MHMS Advocates, Tamara Putri Berliani. Foto: Istimewa
Associate MHMS Advocates, Tamara Putri Berliani. Foto: Istimewa

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di keluarga tanpa latar belakang hukum, pemahaman Tamara terhadap profesi lawyer pada masa kecilnya terbentuk dari penggambaran profesi tersebut di media. Dari sana, muncul persepsi yang terkesan definitif dan melekat, yaitu bahwa menjadi lawyer adalah pekerjaan yang penuh tantangan dan identik dengan dominasi laki-laki.

Tanpa disadari, persepsi tersebut terus melekat pada benak Tamara hingga ia menempuh pendidikan untuk meraih gelar sarjana. Saat itu, ia sampai pada kesimpulan bahwa profesi lawyer bukanlah untuknya. Kesimpulan tersebut Tamara buat atas dasar pemikiran yang terbilang sangat tradisional, namun cukup sederhana, yaitu bahwa pekerjaan yang penuh tantangan seperti menjadi lawyer tidak akan benar-benar bisa dijalani dengan rasa nyaman oleh perempuan. 

Namun, pandangan tersebut berubah ketika Tamara memasuki dunia kerja dan memulai kariernya di MHMS Advocates. Ia menyadari bahwa menyelesaikan pekerjaan kompleks yang menuntut performa optimal, baik dengan hard skills maupun soft skills, justru merupakan hal yang menyenangkan dan menghadirkan rasa bangga. Melalui MHMS Advocates, Tamara juga berkesempatan untuk mendapatkan bimbingan dari para mentor inspiratif yang tidak hanya membimbing dari segi ilmu hukum, tetapi juga mendorongnya untuk terus mengembangkan kapasitas diri sebagai seorang lawyer. 

Meski berbagai pekerjaan dengan tingkat kompleksitas tinggi kerap menuntut penyelesaian dalam waktu singkat, pengalaman dan keberhasilan Tamara dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut justru meneguhkan pandangannya bahwa tidak ada jenis pekerjaan yang dibatasi oleh suatu identitas gender. Baginya, setiap orang memiliki ruang kesempatan yang sama dalam menekuni pekerjaan apapun, selama didukung oleh ketertarikan dan kemampuan yang memadai. 

Sejalan dengan perspektif tersebut, Tamara meyakini bahwa profesi lawyer yang high-paced dan high-pressure menuntut tiga prinsip utama, yakni resiliensi, fleksibilitas, dan integritas. Ketiganya kemudian menjadi bekal yang ia yakini berperan penting untuk dimiliki sebagai fondasi agar seseorang dapat membangun karier yang tidak hanya berkembang, tetapi juga membentuk proyeksi karier yang sehat dan berkelanjutan. 

Resiliensi serta fleksibilitas, menurut Tamara, merupakan dua bekal awal yang dibutuhkan untuk mengatur ritme dalam bekerja. Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya selama hampir empat tahun bekerja di MHMS Advocates, tidak ada pekerjaan maupun cara bekerja dengan klien yang seratus persen sama. Lanskap hukum yang dinamis menuntut seorang lawyer untuk selalu beradaptasi dalam melaksanakan pekerjaannya. 

Bagi Tamara, selain mengikuti perkembangan regulasi serta interpretasi hukum oleh instansi terkait, seorang lawyer juga harus mampu menyesuaikan struktur transaksi dengan kebutuhan klien yang beragam, yang dipengaruhi oleh latar belakang transaksi yang berbeda-beda. Pada akhirnya, Tamara memandang bahwa menjadi seorang lawyer bukan semata-mata pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dalam penguasaan ilmu hukum, melainkan juga bertumpu pada pengambilan keputusan strategis yang mempertimbangkan akurasi analisis dengan konteks bisnis klien. 

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info