Partner Mochtar Karuwin Komar (MKK), Made Gde Taksu Barata mengatakan terjadi tren peningkatan aktivitas konstruksi dan pembangunan infrastruktur sejak pandemi Covid-19 berlalu. Tren ini disertai sengketa bisnis yang juga meningkat.
“Pada tahun 2020 menuju 2021, orang-orang bisnis berhasil bertahan hidup. Padahal melihat grafik pertumbuhan ekonomi yang anjlok pada tahun tersebut menunjukkan masalah yang besar, karena bisnis tidak bisa melakukan apa-apa,” ujar Made dalam seminar Construction and Infrastructure, Trends and Dispute in Indonesia, Rabu (4/9/2024).
Sebelumnya sejumlah negara tercatat menunda aktivitas konstruksi pada saat pandemi Covid-19. Ini berdampak pada tidak terserapnya bahan baku domestik. Impor barang modal menurun dan lapangan pekerjaan banyak hilang sehingga angka pengangguran meningkat. Tidak ada manfaat ekonomi yang diperoleh dari pembangunan infrastruktur.
Baca juga:
Lagi, MKK Dinobatkan Sebagai Law Firm Jumlah Partner Wanita Terbanyak 2024
Cerita MKK Jadi Juara Bertahan Law Firm dengan Partner Wanita Terbanyak
Pembangunan infrastruktur memiliki hubungan timbal balik dengan pertumbuhan ekonomi makro, dimana pembangunan infrastruktur menimbulkan ekspansi ekonomi melalui efek berganda. Ekspansi ekonomi juga menimbulkan kebutuhan untuk memperluas infrastruktur yang ada, guna meningkatkan aliran barang dan orang yang beredar atau sirkulasi di seluruh perekonomian.
Made melihat adanya kebutuhan investasi yang signifikan dalam infrastruktur dari tahun 2019-2030. Nilainya berkisar antara 55 miliar dollar hingga 72 miliar dollar per tahun. Meski investasi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tantangan lanskap hukum dan risiko proyek harus disikapi dengan cermat.
Tingkat aktivitas di sektor konstruksi dan infrastruktur di seluruh kawasan Asia Tenggara terus meningkat termasuk di Indonesia. Proyek-proyek besar saat ini sedang berlangsung. Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk memperkenalkan insentif fiskal, skema-skema baru, dan rencana-rencana pembangunan.
Di sisi lain, semakin banyak pihak terdampak konsekuensi dari penundaan dan biaya tambahan yang disebabkan oleh pandemi. “Dampak pandemi pada industri konstruksi cukup bervariasi, mulai dari keterlambatan dan gangguan proyek, kemerosotan ekonomi, tantangan tenaga kerja, gangguan rantai pasokan, hingga peningkatan biaya,” imbuh Made.
Di wilayah yang lebih luas yaitu Asia juga tidak luput terkena imbas dari pandemi. Daryl Chew, Partner dari Three Crowns LLP asal Singapura, menyatakan komitmen kantornya untuk memberikan layanan terbaik dalam arbitrase internasional. Ia mengatakan perselisihan tidak dapat dihindari dalam bisnis, apalagi soal investasi dalam energi dan infrastruktur.
“Beberapa klien cenderung agresif dan beberapa lainnya cenderung menghindari perselisihan. Kami sebagai arbiter perlu menyeimbangkan dengan perlindungan hak hukum masing-masing pihak,” jelas Daryl dalam kesempatan yang sama.
Tak jarang ia menemukan perjanjian umum yang tercakup dalam kontrak tetapi timnya perlu menavigasi yurisdiksi yang berbeda dengan kemungkinan proses yang berbeda. Bisa saja ada masalah kompleks yang timbul akibat dari pandemi di proyek energi atau infrastruktur.
Daryl memberi saran kepada lawyer yang menangani banyak kasus untuk memberikan porsi yang sama di rangkaian kontrak yang berbeda. Hal ini merupakan salah satu bentuk pencegahan dari salah langkah dalam melindungi hak para pihak di setiap sengketa.
















