YLKI Desak Pemerintah Usut Tuntas Kasus Gangguan Ginjal Akut
Terbaru

YLKI Desak Pemerintah Usut Tuntas Kasus Gangguan Ginjal Akut

Presiden Joko Widodo perlu turun tangan untuk mengevaluasi kinerja Badan POM dalam hal pengawasan dan kebijakannya.

M. Agus Yozami
Bacaan 4 Menit

"Kita tes kesepuluh anak, tujuh orang ternyata darahnya atau urine-nya mengandung zat kimia ini. Jadi positif memang 70 persen orang yang kena (gangguan) itu disebabkan oleh adanya zat kimia di tubuhnya," kata Menteri Kesehatan.

Setelah itu, Kementerian Kesehatan melakukan pemeriksaan pada pasien gangguan ginjal akut yang meninggal dunia serta menemukan ciri-ciri kerusakan ginjal yang disebabkan oleh zat kimia.

"Karena sudah ketahuan kalau zat kimia ini merusak ginjalnya seperti apa. Kita cek 100 persen, memang terjadi kerusakan ginjal sesuai dengan ciri-ciri yang disebabkan oleh obat kimia ini, jadi memperkuat bahwa penyebabnya adalah obat kimia ini," kata Menteri Kesehatan.

Dia mengatakan bahwa selanjutnya tim Kementerian Kesehatan mendatangi rumah-rumah pasien gangguan ginjal akut dan mengambil obat-obatan yang ada di rumah pasien untuk diperiksa.

"Sekali lagi kita cek, ada atau tidak senyawa kimia yang berbahaya ini. Kita menggunakan Lab Puslabfor Polri, memang yang mereka lakukan sifatnya baru kualitatif ada atau tidak, bukan kuantitatif kadarnya berapa. Tapi secara kualitatif ditemukan sebagian besar obat-obatan yang ada di rumah pasien itu mengandung senyawa kimia berbahaya ini," kata Menteri Kesehatan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan kajian yang dilakukan, Kementerian Kesehatan menyimpulkan bahwa penyebab gangguan ginjal akut yang terjadi pada anak-anak adalah obat-obatan yang mengandung cemaran etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan etilen glikol butil ether (EGBE).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) setelah melakukan pemeriksaan menyatakan bahwa ada lima produk obat sirop di Indonesia yang mengandung cemaran etilen glikol melampaui ambang batas aman.

Lima produk yang dimaksud yakni Termorex Sirup (obat demam) produksi PT Konimex; Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu) produksi PT Yarindo Farmatama; serta Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), Unibebi Demam Sirup (obat demam), dan Unibebi Demam Drops (obat demam) produksi Universal Pharmaceutical Industries.

BPOM telah memerintahkan industri farmasi pemilik izin edar lima obat sirop yang mengandung cemaran etilen glikol melampaui ambang batas aman untuk menarik produk obat sirop mereka dari peredaran di seluruh Indonesia dan memusnahkan seluruh bets produk.

Menurut Menteri Kesehatan, hingga 24 Oktober 2022 sudah ditemukan 245 kasus gangguan ginjal akut di 26 provinsi di Indonesia dan jumlah pasien yang meninggal karena gangguan ginjal akut tercatat 141 orang atau 57,6 persen dari total kasus.

Tags:

Berita Terkait