Kamis, 11 February 2016

5 Kiat Hadapi Lawyer Asing di Forum Arbitrase Internasional

Salah satunya, meng-hire lawyer asing untuk membantu saat berperkara di arbitrase internasional.
NNP
Iswahjudi Karim. Foto: RES

Penyelesaian sengketa lewat jalur arbitrase kian populer belakangan ini. Salah satu forum arbitrase yang cukup menantang, terutama bagi para lawyer adalah forum arbitrase internasional. Melalui forum penyelesaian itu, banyak karakter yang berbeda jika dibandingkan forum penyelesaian di jalur litigasi.
 
Terlebih lagi, ‘lawan’ yang mesti dihadapi adalah lawyer asing. Berkaitan dengan hal itu, Partner Karimsyah Lawfirm, Iswahjudi A Karim dan juga koleganya, yang juga Partner Karimsyah Lawfirm, Firmansyah berbagi kiat ketika berhadapan dengan lawyer asing dalam forum arbitrase internasional.
 
Berikut sejumlah kiat yang berhasil dihimpun :
 

Hal pertama ini mutlak dikuasai oleh setiap lawyer. Lihat saja, sejumlah ‘aktor’ dalam forum penyelesaian seperti majelis arbiter, lawyer, serta pihak terkait lain bisa dikatakan kebanyakan merupakan orang asing. Terlebih lagi, pilihan forum internasional ini juga membawa konsekuensi terhadap bahasa yang digunakan secara internasional, yakni bahasa Inggris.
 
“Kalau kemampuan bahasa Inggris ya, itu , namanya juga internasional,” kata Firmansyah saat ditemui , Kamis (11/2).
 

Penguasaan bahasa Inggris yang berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan diri seorang lawyer ketika berperkara. Khusus dalam forum arbitrase ini, Iswahjudi menilai bahwa faktor percaya diri berpengaruh besar dalam keberhasilan ketika berperkara melawan ‘orang kulit putih’.
 
Ketika punya perasaan ‘pede’, Ia meyakini saat berperkara, seorang lawyer akan mengeluarkan argumentasinya dengan lugas. Selain itu, ketika sudah mengantongi rasa percaya diri, seorang lawyer biasanya juga akan mengeluarkan bantahan juga secara baik dalam berperkara.
 
“Kita itu bisa mengemukakan pendapat dan bantahan kita dalam satu sidang dimana yang kita hadapi orang kulit putih. Karena sampai sekarang, kita masih takut aja, apalagi ngga lancar bahasa Inggrisnya,” tutur Iswahjudi.
 

Ini juga faktor penting yang mesti diperhatikan. Forum penyelesaian arbitrase internasional bisa dibilang cukup unik. Sebab, hukum acara yang menjadi pedoman ketika beracara dipilih sendiri oleh para pihak yang bersengketa. Dikatakan Iswahjudi, menguasai hukum acara arbitrase menjadi salah kunci keberhasilan memenangkan perkara lewat forum ini.    
 
“Kalau arbitrase berdasarkan hukum acara UNCITRAL, ya hukum acara UNCITRAL itu harus kita kuasai dengan baik. Kalau pake ICSID, ya peraturan ICSID yang harus kita kuasai,” terang Iswahjudi.
 
Berkaitan dengan pilihan hukum acaranya, ia menyarankan untuk menggunakan acara dalam UNCITRAL. Alasannya, model acara dalam UNCITRAL lebih fleksibel bagi para pihak terutama ketika ingin mengatur sendiri bagaimana mekanisme bersidangnya. Umumnya, para pihak bernegosiasi dan menentukan bagaimana cara persidangannya. Lalu, jika majelis arbiter menyepakati itu, nantinya majelis arbiter membuat yang menyatakan aturan dalam UNCITRAL ada yang disimpangi.
 
“Jadi sebenarnya, kalau saya lihat yang paling enak pakai UNCITRAL. Karena itu , lebih fleksibel, dalam hal para pihak ingin menyimpangi aturan UNCITRAL sepanjang disepakati para pihak itu boleh,” tuturnya.
 

Semestinya setiap lawyer yang berperkara di arbitrase internasional menguasai hukum positif Indonesia ‘di luar kepala’. Sebab, sengketa yang dibawa ke forum arbitrase internasional sebenarnya adalah sengketa berdasarkan hukum positif Indonesia namun diselesaikan lewat mekanisme arbitrase internasional.
 
“Ingat, dalam berarbitrase ini kita ngga bisa ‘mokrol’. Itu artinya sekedar berargumen tapi tanpa dasar hukum. Kalau di Indonesia kita sering lihat pengacara-pengacara itu mokrol,” katanya.
 
Lebih lanjut, Ia mewanti-wanti agar jangan sampai lawyer asal Indonesia tidak paham secara mendalam tentang aspek hukum positif Indonesia terlebih di hadapan majelis arbiter. Sebab, bisa saja yang terjadi adalah pihak lawan, yakni lawyer asing justru lebih menguasai aspek hukum positif Indonesia ketimbang lawyer Indonesia sendiri.
 
“Padahal bagaimana kita mau dihormati oleh Tribunal (majelis arbitrase) kalau kita sendiri tidak menguasai hukum kita. Padahal kita akan menghadapi pihak lawan yang sangat menguasai hukum kita. Pernah dalam berarbitrase itu, pihak lawan menggunakan saksi ahli dari Belanda yang menguasai KUHPer kita. Bayangin kalau kita ngga menguasai KUHPer sendiri, apa kata si majelis?” paparnya.
 

Beda sistem hukum tentu berbeda karakteristiknya. Sistem hukum di Indonesia cenderung ke arah . Sementara, komposisi arbiter dalam arbitrase internasional kebanyakan berlatar belakang . Yang menjadi persoalan adalah bagaimana ketika kita tidak menguasai ?
 
Untuk menyiasati hal itu, Iswahjudi berbagi cara yang biasa dilakukan oleh firma hukumnya ketika menemui kondisi seperti ini. Dari pengalamannya saat menangani perkara arbitrase internasional, ia biasanya bekerjasama dengan seorang lawyer asing yang berlatar belakang untuk membantunya dalam berperkara.
 
“Itu menguntungkan klien, daripada klien menggunakan lawfirm asing seluruhnya. Pertama, kalau pakai lawfirm asing sepenuhnya sangat mahal. Kedua, mereka sebenarnya berpegangan kepada lawyer Indonesia juga karena kontrak-kontrak yang disengketakan itu pasti memakai hukum Indonesia. Jadi keliru misalnya klien menyewa lawfirm asing padahal yang disengketakan adalah kontrak yang memakai hukum Indonesia,” terangnya.
 
Ia menegaskan bahwa firma hukumnya hanya meminta bantuan seorang lawyer asing. Dalam arti, bukan lawfirm asing yang diajak bekerjasama melainkan hanya salah satu lawyer dari kantor asing yang diminta untuk membantunya dalam berperkara. Alasan melakukan itu, salah satunya karena persidangan arbitrase internasional cukup banyak menggunakan .
 
“Menghadapi proses yang kita tidak sebagai civil law (di Indonesia), kita perlu bantuan. Tapi yang membantu kita cukup satu lawyer asing yang kita sewa,” katanya.
 
Menyambung koleganya, Firmansyah mengamini ‘siasat’ yang selama ini digunakan oleh firma hukumnya. Sepengetahuannya juga, memang banyak sekali arbiter yang berlatar belakang . Namun, tak menutup kemungkinan juga diperlukan lawyer asing yang berlatarbelakang . Intinya, bekerjasama dengan lawyer asing mesti disesaikan dengan konteks perkara yang ditangani.
 
“Tapi kalau dari segi pengalaman, kita harus punya kerjasama dengan lawyer asing yang baisanya mereka menguasai . Tidak menutup kemungkinan dari yang yurisdiksi . Tapi kalau aspeknya dari ada kenapa tidak. Karena banyak arbiter dari ,” pungkas Firmansyah. 




hukumonline

1.    Kuasai Bahasa Inggris


no choicehukumonline

2.    Be Confident
fasih





3.    Kuasai Hukum Acara Arbitrase




procedural order

ad hoc

4.    Pahami Hukum Indonesia ‘Di luar Kepala’








5.    Hire lawyer asing
civil law systemcommon law systemcommon law system

common law system



common law system

familiar

common law systemcivil law system

common law systemcivil law systemcommon lawbackground common law system

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua