Kamis, 18 Juli 2019

Ulasan Youtuber Soal Menu Makanan Garuda Indonesia Berujung Ancaman Pidana

Konten yang diunggah dianggap tidak proposional sehingga dapat mencemarkan reputasi maskapai. Pihak maskapai juga diminta tidak antikritik dari konsumen.
Mochamad Januar Rizki
Ilustrasi: BAS

Penggunaan media sosial semakin populer bagi masyarakat saat ini. Setiap harinya selalu ada saja konten berupa kata-kata, foto, video baru dengan tema-tema beragam yang diunggah masyarakat melalui berbagai aplikasi tersebut. Namun, apabila penggunaan aplikasi tersebut dianggap tidak tepat ternyata menimbulkan risiko hukum pagi penggunanya terutama pengunggah video.

 

Salah satu kasus terbaru yaitu persoalan konten menu makanan maskapai Garuda Indonesia. Melalui akun Instagram, Rius Vernandes menayangkan menu makanan maskapai tersebut dengan rute internasional Sydney-Denpasar-Jakarta pada Sabtu (13/7) ternyata menggunakan tulisan tangan. Hal ini tidak seperti layanan maskapai pada umumnya yang menggunakan cetakan printer. Perlu diketahui, Rius populer dikenal sebagai Youtuber atau seseorang pengunggah rutin video Youtube mengenai ulasan layanan berbagai maskapai penerbangan.

 

Ternyata video ulasan tersebut dianggap pencemaran nama oleh pihak Garuda Indonesia melalui Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga). Sehingga, persoalan tersebut dilaporkan kepada kepolisian dengan beberapa delik aduan. Rius bersama temannya Elwiyana Monica yang ikut dalam penerbangan tersebut diadukan dengan Pasal 27 ayat 3 Jo Pasal 45 ayat 3 dan atau Pasal 28 ayat 1 Jo Pasal 45A ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 310 dan atau Pasal 311 KUHP.

 

“Sehubungan dengan adanya pemberitaan yang merugikan terhadap Garuda Indonesia terkait unggahan postingan di Media Social yang dilakukan oleh  salah satu Youtuber di Media Sosial, maka ada beberapa anggota Sekarga telah melaporkan postingan tersebut kepada pihak berwajib dan kami Dewan Pimpinan Pusat Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) mendukung pelaporan postingan tersebut kepada pihak berwajib,” jelas Ketua Harian Sekarga Tomy Tampatty saat dikonfirmasi hukumonline, Kamis (18/7).

 

Dia mengungkapkan ada beberapa karyawan Garuda Indonesia yang juga sebagai anggota Sekarga yang mewakili serikat telah memasukkan pengaduan kepada pihak Kepolisian atas perbuatan yang berdampak terhadap reputasi perusahaan.

 

“Penyampaian pengaduan ini dilakukan karena kami patuh dengan aturan dan prosedur hukum yang berlaku terkai dengan penggunaan media sosial. Kami juga akan menghormati semua proses hukum yang akan berjalan dan mematuhi segala keputusan yang ditetapkan oleh pihak pengadilan nantinya," kata Tomy.

 

(Baca: KPPU Agendakan Pemeriksaan Menteri BUMN Sebagai Saksi Rangkap Jabatan Garuda)

 

Dia menjelaskan laporan tersebut disampaikan atas kerugian yang dialami Garuda Indonesia akibat unggahan konten tersebut di media sosial yang tidak proporsional. Hal tersebut dianggap menimbulkan persepsi negatif kepada masyarakat atas layanan Garuda Indonesia.

 

Kendati demikian, Tommy menilai Garuda Indonesia bukan antikritik atau tidak mau menerima masukan konsumen. Menurutnya, konsumen seharusnya lebih bijak dalam menggunakan media sosial tersebut.

 

“Tolong lah jangan mudah mengekspos segala sesuatu. Perlu juga dipertimbangkan bagaimana dampaknya. Kami berharap kebebasan ini seharusnya dijaga dengan klarifikasi terlebih dahulu,” jelas Tommy.

 

Tidak Bermaksud Mencemarkan Nama

Dalam akun Instagramnya dan Youtube, Rius (@rius.vernandes) menyatakan tidak bermaksud mencemarkan nama Garuda Indonesia. Menurutnya, foto yang diunggah tersebut hanya bermaksud memberi masukan kepada pihak maskapai untuk memperbaiki layanannya.

 

Guys, gw (Rius) sama elwi (Elwiyana) dapat panggilan dari polisi mengenai masalah ini. Kami di laporkan atas dugaan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik. Gw yakin kalian tau kalau gw TIDAK ADA maksud sama sekali untuk mencemarkan nama baik siapapun,” jelas Rius saat menerima surat pemanggilan dari Kepolisian Metro Jaya Resort Kota Bandara Soekarno-Hatta.

 

Lebih lanjut, dia menilai panggilan kepolisian ini merupakan ancaman kebebasan publik dalam mengkritik layanan transportasi maskapai penerbangan. “Gw sangat minta support kalian soal ini. Semua-nya. Siapa pun. Kalian semua punya suara. Terutama teman2 influencer. Gw harap kalian bisa bantu share dan support gw dalam masalah ini karena gw gak mau di masa depan ketika kita review sesuatu dengan apa adanya, ketika kita memberikan kritisi yang membangun, kita bisa di pidana,” jelasnya.

 

Rius menyatakan siap menempuh proses hukum tersebut. Dia juga berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara mediasi. “Gw akan menghormati segala peraturan hukum yang ada dan akan menjalani semua ini. Gw sama sekali tidak merasa mencemarkan nama baik. Gw tidak takut. Tapi tidak ada kah cara yang lebih kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah ini?” pungkasnya.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua