KlinikBerita
New
Hukumonline Stream
Data PribadiJurnal
Personalisasi
Halo,
Anda,

Segera Upgrade paket berlangganan Anda.
Dapatkan fitur lebih lengkap
Profil
Ada pertanyaan? Hubungi Kami
Bahasa
id-flag
en-flag

Arti Error in Persona dan Error in Objecto Serta Contoh Kasusnya

Share
Ilmu Hukum

Arti Error in Persona dan Error in Objecto Serta Contoh Kasusnya

Arti <i>Error in Persona dan Error in Objecto</i> Serta Contoh Kasusnya
Erizka Permatasari, S.H.Si Pokrol

Bacaan 10 Menit

Arti <i>Error in Persona dan Error in Objecto</i> Serta Contoh Kasusnya

PERTANYAAN

Saya ingin minta contoh kasus tentang Error In Persona & Error In Objecto. Serta artinya apa? Tolong beri saya penjelasan atas permasalahan ini.

DAFTAR ISI

    INTISARI JAWABAN

    Secara garis besar, error in persona dapat didefinisikan sebagai kekeliruan pada orang, sedangkan error in objecto dapat didefinisikan sebagai kekeliruan pada objek yang disengketakan.

    Apa saja bentuk-bentuknya? Kemudian bagaimana contoh kasusnya?

    Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

    ULASAN LENGKAP

    Terima kasih atas pertanyaan Anda.

     

    Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Tentang Error In Persona dan Error in Objecto yang dibuat oleh Si Pokrol dan dipublikasikan pertama kali pada 27 Januari 2003.

    KLINIK TERKAIT

    Mengenal Jenis-Jenis Sita dalam Hukum Acara Perdata

    Mengenal Jenis-Jenis Sita dalam Hukum Acara Perdata

    Istilah error in persona dan error in objecto kerap digunakan pada tahap eksepsi atas gugatan perdata atau dakwaan pidana di pengadilan.

    Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan error in persona dan error in objecto? Untuk itu, mari kita bahas satu per satu.

    Belajar Hukum Secara Online dari Pengajar Berkompeten Dengan Biaya TerjangkauMulai DariRp. 149.000

     

    Error in Persona

    Secara umum, error in persona atau exceptio in persona dapat diartikan sebagai kekeliruan mengenai seseorang. Dalam konteks peradilan, error in persona dapat diartikan sebagai kekeliruan atas orang yang diajukan sebagai tergugat melalui surat gugatan atau terdakwa melalui surat dakwaan.

    Dalam lingkup perdata, M. Yahya Harahap dalam buku Hukum Acara Perdata: Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan (hal. 117 - 119) mengklasifikasikan error in persona menjadi:

    1. Diskualifikasi in person

    Diskualifikasi in person terjadi jika pihak yang bertindak sebagai penggugat merupakan orang yang tidak memenuhi syarat (diskualifikasi) disebabkan penggugat dalam kondisi berikut:

    1. Tidak mempunyai hak untuk menggugat perkara yang disengketakan

    Misalnya, orang yang tidak ikut dalam perjanjian bertindak sebagai penggugat menuntut pembatalan perjanjian, atau ayah bertindak sebagai penggugat menuntut perceraian perkawinan anaknya.

    1. Tidak cakap melakukan tindakan hukum

    Orang yang berada di bawah umur atau perwalian, tidak cakap melakukan tindakan hukum. Oleh karena itu, mereka tidak dapat bertindak sebagai penggugat tanpa bantuan orang tua atau wali.

    1. Salah sasaran pihak yang digugat

    Bentuk lain error in persona yang mungkin terjadi adalah keliru menarik orang sebagai tergugat (gemis aanhoeda nigheid). Misalnya, yang meminjam uang adalah A, tetapi yang ditarik sebagai tergugat untuk melunasi pembayaran adalah B.

    Atau, menggugat Perseroan Terbatas (“PT”) yang belum mendapat pengesahan. Gugatan tersebut salah sasaran karena PT tersebut belum memiliki kedudukan sebagai persona standi in judicio, sehingga seharusnya yang ditarik sebagai tergugat bukan PT, melainkan para pengurusnya.

    1. Gugatan kurang pihak (Plurium Litis Consortium)

    Kondisi ini dapat terjadi jika pihak yang bertindak sebagai penggugat atau yang ditarik sebagai tergugat tidak lengkap karena masih ada orang yang mesti ikut bertindak sebagai penggugat atau tergugat.

    Misalnya, PT X meminjam uang dari BPD menggunakan sertifikat tanah A selaku pemegang saham. Pada saat A sudah tidak berkedudukan lagi sebagai pemegang saham, A meminta PT X mengembalikan sertifikat tanah miliknya.

    A kemudian menggugat PT X ke pengadilan untuk mengembalikan sertifikat tanah tersebut. Tapi, pengadilan berpendapat bahwa seharusnya A mengikutsertakan BPD sebagai tergugat. Karena BPD tidak ikut digugat, gugatan tersebut mengandung cacat error in persona dalam bentuk plurium litis consortium.

    Sedangkan dalam lingkup pidana, error in persona bisa terjadi pada saat dakwaan dialamatkan kepada orang yang salah.

    Misalnya, dalam surat dakwaan disebutkan bahwa X berdasarkan identitas yang diajukan oleh penuntut umum berusia 25 tahun, beralamat di Jakarta, beragama Hindu, telah membunuh Y dengan cara menusuknya dengan pisau. Kemudian, X mengajukan eksepsi karena identitas X yang diajukan oleh penuntut umum dalam surat dakwaan tersebut tidak sama dengan dirinya, misalnya X yang sedang didakwa ini ternyata berusia 50 tahun, beralamat di Surabaya dan beragama Islam. Jadi menurut X, penuntut umum tersebut telah salah mendakwa orang.

    Selanjutnya, Safitri Wikan Nawang Sari dalam buku Hukum Pidana Dasar menambahkan, error in persona juga dapat terjadi karena adanya kekeliruan antara apa yang dikehendaki dengan apa yang dilakukan akibat dari salah penglihatan (hal.71).

    Terhadap hal ini, J. Remmelink dalam buku Pengantar Hukum Pidana Material 1: Prolegomena dan Uraian tentang Teori Ajaran Dasar (hal. 194) menjadikan kasus klasik Rose-Rosahl sebagai contoh. Diceritakan, pedagang kayu Rosahl berjanji akan memberi sejumlah uang kepada pembantunya Rose bila ia bersedia membunuh seorang pedagang ternak. Rose, pada suatu senja menunggu di persimpangan jalan yang biasa dilewati pedagang ternak. Ketika ia merasa telah melihat pedagang ternak tersebut, ia melepas tembakan. Ternyata, orang yang ia tembak adalah seorang anak yang kebetulan lewat.

    Di sisi lain dalam lingkup tata usaha negara (“TUN”), error in persona dapat terjadi jika penggugat menggugat pihak yang salah, dalam hal ini, bukan pihak yang mengeluarkan keputusan TUN yang menjadi objek gugatan. 

    Misalnya, rumah M terkena proyek gusuran dari pemerintah setempat. Mengetahui hal tersebut, M mengajukan gugatan TUN. Dalam surat gugatannya, dia menunjuk Walikota Jakarta Pusat sebagai tergugat. Walikota tersebut kemudian mengajukan eksepsi bahwa yang mengeluarkan surat perintah penggusuran adalah Gubernur DKI Jakarta, bukan ia selaku walikota, sehingga menurutnya majelis hakim harus menolak gugatan penggugat atas dasar error in persona.

    Error in Objecto

    Pada prinsipnya, error in objecto adalah kekeliruan terhadap objek. Dalam lingkup pengadilan, error in objecto ialah kesalahan gugatan/dakwaan karena adanya kekeliruan terhadap objek yang digugat/didakwakan.

    Misalnya, M menggugat Gubernur DKI Jakarta ke pengadilan TUN atas keputusannya yang mengakibatkan tergusurnya rumah M. Dalam kasus tersebut, objek yang disengketakan penggugat adalah SK No. 888. Padahal, perintah penggusuran tersebut dikeluarkan melalui SK No. 785, bukan SK No. 888. Kesalahan atas objek yang disengketakan tersebut disebut dengan error in objecto.

    Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.

    Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

    Referensi:

    1. J. Remmelink. Pengantar Hukum Pidana Material 1: Prolegomena dan Uraian tentang Teori Ajaran Dasar. Yogyakarta: Maharsa Publishing, 2014;
    2. M. Yahya Harahap. Hukum Acara Perdata: Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan. Jakarta: Sinar Grafika, 2017;
    3. Safitri Wikan Nawang Sari. Hukum Pidana Dasar. Klaten: Penerbit Lakeisha, 2020.

    Tags

    acara peradilan
    perdata

    Punya Masalah Hukum yang sedang dihadapi?

    atauMulai dari Rp 30.000
    Powered byempty result

    KLINIK TERBARU

    Lihat Selengkapnya

    TIPS HUKUM

    Perhatikan Ini Sebelum Tanda Tangan Kontrak Kerja

    20 Mar 2023
    logo channelbox

    Dapatkan info berbagai lowongan kerja hukum terbaru di Indonesia!

    Kunjungi

    Butuh lebih banyak artikel?

    dot
    Ayo lari estafet bersama kami!
    Informasi selanjutnya klik di sini!