
Jaksa Agung Muda Pidana Umum Prof Asep Nana Mulyana.
Menurut Asep yang pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat itu menilai sosok almarhum merupakan figur panutan sebagai pimpinan ataupun pribadi. Ia mengenang mendiang menjadi role model bagi para junior di kejaksaan.
Sosoknya yang bersahaja, penuh dedikasi, dan perjuangannya selama hidup diharapkan menjadi ladang ibadah dan jalan menuju surga bagi almarhum. Asep mengaku sempat bertemu almarhum dua pekan lalu. Secara fisik Abdul Rahman Saleh terlihat sehat, meskipun ingatan mulai menurun.
“Makanya, saat menerima kabar duka ini, saya sempat tidak percaya. Beliau masih sering menyempatkan hadir di acara-acara kejaksaan,” kenangnya.
Lebih lanjut, Asep menegaskan pesan yang paling membekas dari almarhum adalah soal integritas. Selain itu mendiang juga merupakan sosok sederhana, tapi tangguh dalam memegang prinsip hukum. Meskipun dengan semua jabatan mentereng pernah diembannya, almarhum dikenal tetap hidup sederhana. Karena itulah pria yang biasa disapa Bang Arman di kalangan aktivis hukum dan peradilan itu menjadi tokoh hukum panutan di mata para koleganya.

Sejumlah tokoh saat melayat ke rumah duka di bilangan Pejaten Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Kolega almarhum, Ketua Umum DePA-RI, TM Luthfi Yazid mengenang mendiang adalah tokoh yang teladan baik di lingkungan profesional dan keluarga. Menurutnya, masyarakat hukum kehilangan seorang tokoh di bidang hukum, seperti Abdul Rahman Saleh.
Menurutnya, sejak mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Abdul Rahman Saleh sudah menjadi aktivis dan juga seniman. Di keluarganya, almarhum merupakan sosok yang harmonis dan humoris, serta seorang ayah yang sangat hangat.
Sedari kecil, almarhum memang sudah terbiasa membaca buku mengingat sang ayah memiliki toko buku di Pekalongan. Itu sebabnya sepak terjang almarhum semasa hidup banyak membaca dan menulis selain penegak hukum.
















