(Baca Juga: Kondisi Penanganan Perkara di MA Hingga Agustus 2017)
Ternyata, menurut Asep perubahan tren itu dipicu oleh pemanfaatan teknologi informasi (TI) oleh MA. Ia mengatakan, ada rekayasa proses yang diatur sehingga membuat kerja hakim agung lebih efektif dan efisien. Ujungnya, bisa meningkatkan produktivitas. Di situlah menurut Asep, peran teknologi informasi cukup dominan.
“Perkara yang diperiksa MA hanya memeriksa berkas. Sehingga, kalau kita bagi tahapannya bisa menjadi tiga fase besar, pertama berkas dikirim dari pengadilan ke MA. Kedua, oleh MA berkas diperiksa. Kemudian berkas dikirim kembali ke pengadilan pengaju. Tiga fase inilah yang kami coba inisiatif penggunaan teknologi informasi. Pengiriman-pengiriman berkas ini menggunakan teknologi sehingga lebih cepat prosesnya,” imbuh Asep.
(Baca Juga: Kualitas Pelayanan Pengadilan Masih Sulit Dapatkan Pengakuan Publik)
Ketua Kamar Pengawasan MA, Sunarto, mengatakan penggunaan teknologi informasi juga telah mengubah tren dalam pengawasan dan pembinaan internal MA. Menurutnya, dengan menggunakan aplikasi berbasis TI, ternyata banyak whistle blower dari internal yang menggunakan aplikasi itu.
“Setelah di-mapping, ternyata permasalahannya bermacam-macam. Dari banyaknya pelaporan yang masuk, pola pembinaan pun kita ubah. Terakhir, kami membuat yang namanya mystery shopper dan kita kerja sama dengan KPK. Aparat pengawasan MA dididik oleh KPK,” tutur Sunarto.
Para mystery shopper itu turun ke lapangan berpura-pura menggunakan layanan tanpa diketahui oleh siapapun. Mereka akan memantau target dalam seminggu hingga dua minggu. Kalau sudah ada bukti, target kemudian dipanggil oleh Kamar Pengawasan.
Sunarto menambahkan, dengan menggunakan TI perputaran informasi jadi lebih cepat. Pengawasan dan pembinaan menjadi jauh lebih efektif dan efisien. Jika ada masalah di suatu daerah, dengan TI jadi lebih cepat dan mudah. Misalnya, saat ada laporan OTT, Sunarto mengakui pihaknya bisa saja hanya dua hari memeriksa.
“Kita bisa cepat menindaklanjuti. Kita langsung minta bukti pembinaan dan pengawasan dari atasan langsungnya. Untuk dikirim secara soft copy. Kemudian mystery shopper juga menyelidiki. Tetapi problemnya, ada juga aparatur yang sudah senior di atas 60 tahun, tidak familiar dengan aplikasi TI ini,” pungkasnya.
















