Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim membacakan duplik dengan menguraikan perjalanan kebijakan digitalisasi pendidikan yang dijalankannya selama menjabat. Menurutnya, pengadaan Chromebook bukanlah fokus utama program tersebut, melainkan hanya salah satu instrumen pendukung untuk memperluas akses pembelajaran digital.
Dari seluruh rekam jejak komunikasi WhatsApp selama lima tahun masa jabatannya, kata dia, hanya terdapat empat hingga lima percakapan yang secara khusus membahas Chromebook. Menurutnya, temuan tersebut menjadi fakta penting yang terungkap selama persidangan.
“Ini salah satu poin temuan terpenting dari fakta persidangan,” ujar Nadiem dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Selasa (23/6), berdasarkan keterangan pers yang diterima Hukumonline.
Baca Juga:
- Tolak Dakwaan Kerugian Negara, Nadiem Makarim Berharap Putusan Bebas Murni
- Di Pledoi, Nadiem Pertanyakan Tuntutan Uang Pengganti 3 Kali Lipat dari Kerugian Negara
Ia menjelaskan, keterlibatannya dalam pembahasan Chromebook sangat terbatas dan hanya terjadi ketika dirinya dimintai pendapat. Sebaliknya, komunikasi terkait pengembangan aplikasi pendidikan berlangsung jauh lebih intensif, bahkan mencapai ratusan kali selama ia menjabat sebagai menteri.
Sebagai perbandingan, Nadiem menyebut dirinya hanya menghadiri satu rapat yang secara khusus membahas pengadaan Chromebook selama lima tahun menjabat. Sementara itu, rapat terkait pengembangan berbagai aplikasi pendidikan dilakukan secara rutin hingga dua kali setiap bulan.
Menurut Nadiem, fakta tersebut menunjukkan bahwa inti kebijakan digitalisasi pendidikan terletak pada pembangunan ekosistem pembelajaran digital dan pengembangan aplikasi yang digunakan oleh siswa, guru, maupun mahasiswa.
















