Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menghadirkan tantangan baru bagi industri media. Selain menurunkan trafik ke situs berita, platform AI juga membebani perusahaan media melalui proses scraping data untuk melatih Large Language Model (LLM).
Temuan ini disampaikan peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Ika Idris, berdasarkan penelitian terhadap perubahan trafik media pada tiga fase pembaruan Google AI Overview, yakni Oktober 2024, Maret 2025, dan Juli 2025.
Penelitian tersebut menggunakan data dari perusahaan media, asosiasi media, dan Similarweb. Hasilnya, mayoritas media mengalami penurunan trafik setelah AI Overview semakin luas digunakan, bahkan pada beberapa media mencapai puluhan persen.
Namun, Ika menegaskan temuan itu belum membuktikan hubungan sebab akibat secara pasti karena sampel penelitian masih terbatas dan terdapat faktor lain yang turut mempengaruhi penurunan trafik.
"Namun, kami menemukan 6 dari 13 major outlets. Kalau dalam konteks AI sebenarnya major outlets itu berarti dia memproduksi berita dan artikel lebih banyak,” ujarnya dalam diseminasi dampak AI terhadap industri media, yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Senin (20/7/2026).
Baca juga:
- Posisi Tawar Publisher di Era AI Perlu Diperkuat Lewat Reformasi Regulasi
- AI Gerus Model Bisnis Media, Negara Global South Dorong Reposisi Jurnalisme
Selain penurunan trafik, penelitian ini mengungkap fenomena double subsidy yang secara tidak langsung diberikan perusahaan media kepada pengembang AI. Subsidi pertama terjadi ketika konten jurnalistik di-scraping sebagai data pelatihan model AI. Menurut Ika, banyak media, terutama yang berukuran kecil, belum menyadari bahwa kontennya terus diakses oleh bot pengumpul data.
















