Beban Ganda Media di Balik Pesatnya Perkembangan AI
Terbaru

Beban Ganda Media di Balik Pesatnya Perkembangan AI

Penelitian Monash University Indonesia dan PR2Media menemukan media tidak hanya kehilangan trafik akibat AI Overview, tetapi juga menanggung biaya tambahan server akibat aktivitas bot pengambil data.

Willa Wahyuni
Bacaan 3 Menit
Kiri ke kanan: Koordinator Penelitian PR2Media, Engelbertus Wendratama dan peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Ika Idris dalam diseminasi dampak AI terhadap industri media, Senin (20/7/2026). Foto: WIL
Kiri ke kanan: Koordinator Penelitian PR2Media, Engelbertus Wendratama dan peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Ika Idris dalam diseminasi dampak AI terhadap industri media, Senin (20/7/2026). Foto: WIL

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menghadirkan tantangan baru bagi industri media. Selain menurunkan trafik ke situs berita, platform AI juga membebani perusahaan media melalui proses scraping data untuk melatih Large Language Model (LLM).

Temuan ini disampaikan peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Ika Idris, berdasarkan penelitian terhadap perubahan trafik media pada tiga fase pembaruan Google AI Overview, yakni Oktober 2024, Maret 2025, dan Juli 2025.

Penelitian tersebut menggunakan data dari perusahaan media, asosiasi media, dan Similarweb. Hasilnya, mayoritas media mengalami penurunan trafik setelah AI Overview semakin luas digunakan, bahkan pada beberapa media mencapai puluhan persen.

Namun, Ika menegaskan temuan itu belum membuktikan hubungan sebab akibat secara pasti karena sampel penelitian masih terbatas dan terdapat faktor lain yang turut mempengaruhi penurunan trafik.

"Namun, kami menemukan 6 dari 13 major outlets. Kalau dalam konteks AI sebenarnya major outlets itu berarti dia memproduksi berita dan artikel lebih banyak,” ujarnya dalam diseminasi dampak AI terhadap industri media, yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Senin (20/7/2026).

Baca juga:

Selain penurunan trafik, penelitian ini mengungkap fenomena double subsidy yang secara tidak langsung diberikan perusahaan media kepada pengembang AI. Subsidi pertama terjadi ketika konten jurnalistik di-scraping sebagai data pelatihan model AI. Menurut Ika, banyak media, terutama yang berukuran kecil, belum menyadari bahwa kontennya terus diakses oleh bot pengumpul data.

Halaman Selanjutnya:
Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info