Berita

Diprediksi Tiga Capres Unggulan

Karena tidak ada parpol yang meraih suara dominan dalam Pemilu legislatif.

Oleh:
ADY
Bacaan 2 Menit
Diprediksi Tiga Capres Unggulan
Hukumonline
Peta politik saat ini masuk babak baru usai pemungutan suara Pemilu legislatif yang berlangsung 9 April 2014. Direktur Eksekutif Political Communication Institute (PolcoMM), Heri Budianto memprediksi ada tiga poros besar yang bakal mewarnai Pemilu Presiden 2014. Prediksi ini dilihat dari hasil hitung cepat yang menunjukan tidak ada satu pun parpol yang meraih suara dominan. Oleh karenanya untuk mengajukan calon Presiden dan wakilnya, parpol harus melakukan koalisi.

Menurut Budi kondisi itu akan menentukan arah koalisi antar parpol ke depan dalam menghadapi Pemilu Presiden. Bentuk koalisi nantinya juga dipengaruhi oleh komunikasi politik yang dibangun parpol. “Karena tidak ada parpol dominan, nanti ada tiga kluster besar. Pertama dipimpin PDIP, kemudian Golkar dan Gerindra,” katanya dalam jumpa pers di Universitas Mercu Buana Jakarta, Jumat (11/4).

Beberapa parpol sudah menjalin komunikasi politik awal. Seperti partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang sudah mendekati PDIP. Dari berbagai peluang antar parpol untuk berkoalisi ia melihat Partai Demokrat (PD) akan kesulitan menggandeng PDIP. Hubungan politik antara Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum PD, Susilo Bambang Yudhoyono, dinilai Budi, kurang baik.

Padahal berdasarkan prediksi perolehan suara dalam Pemilu legislatif Budi mengatakan PD secara psikologis lebih percaya diri mengajukan calon wakil Presiden (Cawapres) kepada parpol yang akan diajak berkoalisi. Kesulitan untuk berkoalisi menurutnya juga bakal dialami Golkar. Sebab, elektabilitas Aburizal Bakrie (ARB) sebagai calon Presiden (capres) partai Golkar paling minim jika dibandingkan dengan capres yang diusung parpol lainnya. Seperti Joko Widodo yang diusung PDIP dan Prabowo Subianto capres dari Gerindra.

Walau begitu Budi melihat ada kemungkinan muncul poros tengah jilid 2 yang merupakan gabungan dari parpol-parpol Islam. Jika poros tengah itu terwujud dan mengusung capres maka akan ada empat pasang capres dan cawapres yang maju pada Pemilu Presiden nanti. Kondisi itu akan membuat sebaran pemilih lebih merata ketimbang hanya tiga pasangan yang maju dalam Pemilu Presiden 2014.


Pada kesempatan yang sama Sekjen DPP PKB, Imam Nahrawi, mengatakan sampai saat ini partainya belum fokus membahas arah koalisi. Saat ini parpolnya sibuk mengamankan perolehan suara dan akan membahas arah koalisi setelah mendapat hasil hitungan resmi pemungutan suara Pemilu legislatif.

Namun Imam mengatakan saat ini sudah ada penjajakan awal komunikasi politik yang dijalin PKB dengan parpol lain. Hasilnya, ada yang menginginkan agar menghidupkan koalisi poros tengah, pelangi atau mempertahankan koalisi saat ini dimasa kepemimpinan pemerintahan SBY.

Selain itu Imam berharap koalisi yang dibangun ke depan lebih menekankan pada komitmen bersama. Kemudian ada target yang akan dicapai dengan baik. “Internal koalisi harus solid. Jadi kita akan melihat sejauh mana komitmen itu,” urainya.

Imam menjelaskan saat ini PKB mengusung dua nama yang dijagokan menjadi capres yaitu musisi dangdut, Rhoma Irama dan mantan ketua MK, Mahfud MD. Ia berharap parpol yang akan berkoalisi dengan PKB mau menerima kedua capres yang diusung itu.

Senada, anggota Dewan Pembina PD, Melani Leimena Suharli, mengatakan saat ini parpol yang dipimpin oleh SBY itu belum fokus membahas koalisi guna menghadapi Pemilu Presiden. Tapi ia menekankan koalisi ke depan harus punya komitmen yang jelas apakah posisinya sebagai oposisi atau tidak. Sampai saat ini PD masih membuka pintu lebar untuk berkoalisi dengan parpol lain.

Soal capres, Melani mengatakan Demokrat menggunakan mekanisme konvensi yang diikuti oleh 11 orang. Sampai saat ini pemenang konvensi belum diumumkan. Tapi Melani menekankan untuk mengajukan capres parpolnya akan realistis mengacu pada perolehan suara hasil Pemilu legislatif. “Kami juga akan melihat parpol yang nanti akan diajak berkoalisi punya capres atau tidak. Kalau punya berarti kami hanya bisa mengajukan cawapres,” paparnya.

Sedangkan Ketua DPP PDIP bidang Maritim dan Perikanan, Rokhmin Dahuri, mengatakan menjelang Pemilu Presiden, parpolnya sudah menjalin komunikasi politik awal dengan beberapa parpol. Seperti Nasdem dan PAN. Ia menekankan PDIP akan berkoalisi dengan parpol yang punya visi dan misi yang sama. Misalnya, bagaimana meningkatkan perekonomian Indonesia guna membawa kemakmuran dan kesejahteraan untuk rakyat. “Jadi bukan koalisi yang transaksional,” tandasnya.

Menanggapi arah koalisi ke depan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tanjung, mengaku kecewa dengan prediksi perolehan suara parpol berlambang pohon beringin itu pada Pemilu legsilatif 2014. Pasalnya, Golkar hanya memperoleh sekitar 14 persen suara. Padahal target maksimum perolehan suara 30 persen dan minimum 26 persen. “DPP (Golkar,-red) harus menjelaskan kenapa target kita turun. Itu perlu diselesaikan di internal Golkar setelah itu baru bicarakan capres,” tandasnya.

Akbar mengatakan jika mengacu pada prediksi perolehan suara Golkar dalam Pemilu legislatif tidak cukup untuk mengajukan capres. Jika Golkar tidak bisa secara langsung mengajukan ARB sebagai capres Akbar berpendapat harus dicari strategi baru. Tapi jika ARB tetap didorong menjadi capres maka Golkar harus berkoalisi dengan parpol yang mau mengusung ARB.

Opsi lainnya, Akbar mengusulkan, Golkar tidak bisa memaksakan diri untuk mengajukan capres. Namun ia menyerahkan hal itu pada keputusan DPP Golkar guna menentukan langkah yang bakal ditempuh untuk menghadapi Pemilu Presiden.

Walau begitu politisi kawakan itu berpendapat semua parpol punya kesempatan untuk berkoalisi asal punya visi dan misi yang sama. Kemudian, untuk berkoalisi penting juga memikirkan kenyamanan dalam menjalankan pemerintahan. Sehingga dapat menciptakan stabilitas politik di parlemen. Sebab, saat ini peran parlemen sangat kuat mempengaruhi kebijakan. “Biar pemerintahan dapat berjalan efektif,” pungkasnya.
Tags:

Berita Terkait