Hidup Hijau Masih Jauh di Mata Dekat di Hati
Hidup Hijau Masih Jauh di Mata Dekat di Hati
Tajuk

Hidup Hijau Masih Jauh di Mata Dekat di Hati

Kesadaran untuk merawat bumi dan keberhasilannya juga sangat tergantung dari komitmen, keterlibatan dan sikap hidup dan organisasi masyarakat sipil dan warga masyarakat, jadi bukan hanya urusan negara dan perusahaan.

Oleh:
Arief T Surowidjojo
Bacaan 8 Menit
Ilustrasi: BAS
Ilustrasi: BAS

Para ilmuwan dan kalangan akademik seluruh dunia sudah cukup lama bersepakat bahwa bumi sedang sakit, dan penyebabnya adalah kita semua, umat manusia. Peringatan bahwa iklim akan berubah dan menimbulkan bencana alam juga telah banyak diramal dan disepakati. Sebagian dunia usaha telah menyadari dan menyepakatinya, sebagian lainnya menganggapnya sebagai fantasi ilmiah.

Sebagian pemerintah banyak negara juga sepakat, apalagi kalau sistem politiknya, utamanya yang demokratik, banyak dipengaruhi oleh gerakan hijau. Sebagian lainnya, utamanya yang sangat kapitalistik dan industrialis, pada awalnya lebih cenderung pikir-pikir, dan maju mundur mengambil sikap. Yang lebih berpihak kepada rakyat dan alam semesta, lebih condong dari ilmuwan dan akademik. Organisasi masyarakat sipil, sejak lama sudah mendukung gerakan untuk melindungi bumi dari perusakan dan kerusakan karena ulah manusia. Demikianlah, bumi yang bulat ini, terpecah menjadi kepingan banyak cara memandang dan merawatnya.

Ketika bukti-bukti mulai bermunculan: temperatur meningkat dan bumi makin panas, dan di waktu lain makin dingin, dunia es di utara mencair, banjir melanda semua penjuru dunia, cuaca ekstrim menimbulkan penderitaan, pulau muncul dan tenggelam, panen tanaman pangan banyak gagal, dan dunia dilanda krisis pangan dan energi, maka lebih banyak negara dan penguasa serta anggota masyarakat mulai sadar bahwa perusakan dan kerusakan bumi adalah sesuatu yang nyata, di depan mata, dan bukan hanya bahaya masa datang, tetapi sudah kita alami sendiri hari ini.

Ketika di awal kita mencoba melindungi masa depan anak-cucu, maka kini kita berupaya agar hidup kita sendiri tidak terlalu terdampak oleh perubahan iklim. Negara kaya dan bahkan orang super kaya mulai berpikir mengeksplorasi planet lain yang kira-kira layak tinggal. Kira-kira seperti kata Captain James T. Kirk dalam film Startek: “To boldly go where no man gone before”, atau mungkin mereka sudah mulai percaya oleh apa yang dikatakan Stephen Hawking: “We are in danger of destroying ourselves by our greed and stupidity. We cannot remain looking inwards at ourselves on a small and increasingly polluted and overcrowded planet.”

Alhasil, mulailah kita bersepakat bahwa langkah-langkah drastis dan cepat harus dilakukan. Negara-negara, industri besar, ilmuwan, cendekiawan, akademik, dan pemimpin masyarakat sipil berkumpul untuk lebih serius mendiskusikan masalah perubahan iklim, pemanasan global, dan dampak-dampak negatifnya. Ajakan-ajakan, percobaan-percobaan dan langkah-langkah solutifnya mulai dilakukan.

Sederet pertemuan sejak the UN Scientific Conference on the conservation and utilization of resources di Lake Success, New York tahun 1949, the First Earth Summit di Stockholm pada tahun 1972, the Vienna Convention pada tahun 1985, the Earth Summit di Rio de Janeiro pada tahun 1992, the Climate Change Convention atau Kyoto Protocol pada tahun 1997, the Paris Agreement pada tahun 2015, dan terakhir the Glasgow Climate Change Conference pada tahun 2021 pun telah diselenggarakan. Belum lagi sejumlah konferensi internasional lainnya termasuk yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Yang dibahas begitu beragam, dari penghentian secara bertahap emisi karbon dalam berbagai bentuk, transisi energi fosil ke energi baru dan terbarukan, pencetusan ekonomi dan industri hijau berkelanjutan, penghentian kerusakan dan perusakan lingkungan termasuk penghentian deforestasi, penanaman kembali hutan, penghentian dan tata kelola penggunaan plastik dan sampah toksik, tata kelola industri dan utilisasi air bersih, dan banyak upaya lainnya. Gerakan dan upaya ini tentu menimbulkan beragam sikap dan reaksi, yang terkait dengan kepentingan dari mereka yang terdampak.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait