Indonesia Regulatory Compliance Awards (IRCA) 2026 kembali digelar untuk ketiga kalinya di Hotel Le Meridien Jakarta, Jum'at (22/5/2026). Ajang ini menghadirkan empat kategori utama yakni Tim/Company, Leaders, Holding Company, dan The Emerging Leaders in Regulatory Compliance. Kategori tersebut diberikan kepada perusahaan yang memiliki budaya kepatuhan hukum serta tata kelola yang baik.
Dalam perjalanannya, IRCA terus berkembang menjadi ruang kolaboratif bagi para profesional hukum dan kepatuhan untuk memperkuat komitmen bahwa kepatuhan bukan sekadar kewajiban administratif semata. Tapi juga fondasi utama keberlanjutan bisnis dan daya saing perusahaan. Apalagi, tahun 2026 menghadirkan tantangan yang tidak ringan.
Chief Executive Officer (CEO) Hukumonline, Arkka Dhiratara, mengatakan dunia saat ini berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, perlambatan ekonomi global, tekanan harga komoditas, hingga percepatan transformasi digital dan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) telah mengubah cara bisnis beroperasi dan mengambil keputusan.
Di tengah kondisi tersebut, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 3 persen. Sementara berbagai lembaga internasional memperkirakan ekonomi Indonesia tetap resilien di sekitar 5 persen di tengah tekanan global tersebut.
“Namun pada dasarnya, di balik resiliensi tersebut, tantangan regulasi dan kepatuhan justru semakin kompleks,” kata Arkka dalam sambutannya.
Baca Juga:
- Governance dan Strategic Compliance Dinilai Berperan Penting Memitigasi Risiko Korporasi
- Compliance Jadi Kunci Ketahanan Perusahaan, Regulatory Compliance Summit 2026 Resmi Dibuka

Arkka saat berada di podium menyampaikan sambutan sebagai penanda dibukanya IRCA 2026. Fotografer/HFW
















