Pemerintah mematok pendapatan negara sebesar Rp761,4 triliun. Di antaranya, terdapat Rp583,68 triliun dari pajak. Menanggapi hal itu, kalangan pengusaha akan mendukung target pajak. Asalkan regulasinya jelas dan tidak ada lagi pungutan liar, tutur Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Mohammad S. Hidayat, usai mengikuti acara pidato Presiden di Gedung DPR/MR, Jakarta, Kamis (16/8).
Sedangkan belanja negara diperkirakan Rp836,4 triliun. Akibatnya, kantong negara masih defisit Rp75,0 triliun atau sekitar 1,7 persen pendapatan nasional atawa Produk Domestik Bruto (PDB). Dewan Perwakilan Rakyat mencatat, sejak 2004, anggaran belanja ini sudah berlipat lebih dari 2,5 kali. Tahun 2004 hanya Rp370 triliun. Sekarang kita lihat, jalan gak sih implementasinya? tutur Ketua Panitia Anggaran (Panggar) DPR Emir Moeis.
Delapan Prioritas Pembangunan Nasional
(1) peningkatan investasi, ekspor, dan lapangan kerja | (5) pengurangan angka kemiskinan yang lebih efektif |
(2) revitalisasi pertanian, perikanan, kehutanan, dan pembangunan kawasan pinggiran | (6) pemberantasan korupsi dan percepatan reformasi birokrasi |
(3) percepatan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan energi | (7) penguatan pertahanan dan stabilitas keamanan dalam negeri |
(4) peningkatan akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan | (8) manajemen dan penanggulangan bencana, serta perbaikan penanganan flu burung |
Sumber: Pidato Tahunan Presiden, 16 Agustus 2007
Target Asumsi APBN 2008
Proyeksi pertumbuhan ekonomi 6,8% | Ekonomi stabil pada level inflasi 6,0% |
Ekonomi stabil pada kurs Rp9.100 per dolar AS | Ekonomi stabil pada suku bunga SBI 3 bulan 7,5% |
Rata-rata harga minyak AS $60 per barel, dengan lifting 1.034 juta barel per hari | Defisit anggaran Rp75 triliun, atau 1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang diperkirakan berkisar Rp3.700-4.100 triliun |
Sumber: Pidato Tahunan Presiden dan Ketua DPR, 16 Agustus 2007, diolah
Sementara itu, ekonom 'pihak pemerintah' Chatib Basri optimis target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai. Asalkan kita mempercepat belanja serta mempertahankan stabilitas makro, ujar staf ahli Menteri Koordinator Perekonomian itu.
Chatib menambahkan, hingga kini ekspor Indonesia masih tertolong oleh kebutuhan China yang ‘lapar'. Tiongkok adalah konsumen terbesar barang primer dan energi. Permintaan produk dari mereka makin besar sehingga harga cenderung naik. Sedangkan Indonesia menempati urutan keempat eksportir ke China, tukasnya dari balik telepon, Senin (20/8).
Justru karena itu, Hendri makin yakin fondasi ekonomi Indonesia belum kuat. Nilai ekspor kita meningkat bukan karena melonjaknya produksi. Tapi didongkrak oleh kenaikan harga. Produktivitasnya tak pernah meningkat, tuturnya.
















