Universitas Indonesia (UI) menegaskan kualitas perguruan tinggi tidak lagi cukup diukur dari proses pembelajaran di ruang kelas, melainkan dari dampak nyata yang dihasilkan para lulusannya di dunia kerja.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI, Ahmad Gamal, mengatakan reputasi lulusan di mata pemberi kerja kini menjadi indikator penting dalam pemeringkatan universitas dunia. Karena itu, sinergi antara perguruan tinggi dan industri perlu terus diperkuat.
Menurutnya, sejumlah lembaga pemeringkatan global menjadikan reputasi pemberi kerja sebagai komponen utama penilaian kualitas universitas. Selain itu, keberhasilan lulusan di dunia kerja juga semakin diperhitungkan dalam pengukuran kinerja perguruan tinggi.
“Pada akhirnya kualitas pendidikan tinggi diukur dari apa yang dilakukan para lulusan di dunia nyata,” ujar Ahmad dalam The 4th Universitas Indonesia Employer Forum yang digelar pada, Rabu (24/6/2026).
Baca juga:
- Menuju Re-Akreditasi 2029, Pascasarjana Universitas Borobudur Siapkan Lompatan Mutu Akademik
- Ini Deretan Nominasi Kampus Hukum PTN dan PTS Terbaik dalam Top Indonesian Law Schools 2025
- Ini Deretan Kampus Hukum Terbaik dalam Top Indonesian Law Schools 2025
Ahmad mengatakan UI memiliki data kuat untuk mengukur kinerja lulusannya. Berdasarkan tracer study 2024 terhadap lulusan 2023, sebanyak 71,3 persen lulusan sarjana telah bekerja dalam tiga bulan setelah lulus, dengan 28,3 persen di antaranya bekerja di perusahaan multinasional atau internasional.
Selain itu, sekitar 67 persen lulusan memperoleh pekerjaan pertama dalam satu hingga tiga bulan setelah lulus. Namun, studi tersebut juga menemukan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Kesenjangan itu bukan pada kemampuan teknis, melainkan pada aspek adaptabilitas, tanggung jawab, integritas, serta kemampuan bekerja dengan individu dari latar belakang budaya yang beragam.
“Kompetensi yang selama ini paling sulit diukur dalam pendidikan tinggi justru menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dunia kerja,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan pendidikan yang harus diatasi bersama. Karena itu, UI Employer Forum dihadirkan sebagai ruang dialog antara perguruan tinggi dan industri untuk membahas kebutuhan kompetensi masa depan secara lebih terbuka. Melalui forum ini, UI berharap memperoleh masukan langsung dari pemberi kerja guna menyempurnakan kurikulum dan proses pembelajaran.
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Global Relations and Governance BPI Danantara, Mohammad Al-Arief, menekankan pentingnya membangun talenta yang mampu bersaing di tingkat global. Dia mengatakan dunia kerja telah berubah drastis, dengan batas geografis yang semakin memudar seiring perkembangan teknologi dan model kerja digital.
“Kita tidak lagi hanya bersaing dengan perusahaan di Jakarta atau Surabaya. Kita bersaing dengan pusat-pusat teknologi global, jaringan kerja terdistribusi, dan tenaga kerja berbasis algoritma,” ujarnya.

Managing Director Global Relations and Governance BPI Danantara, Mohammad Al-Arief. Foto: WIL
Menurut Arief, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pola pengembangan talenta lama jika ingin menjadi negara berkelas dunia. Karena itu, perguruan tinggi dan industri perlu membangun ekosistem talenta yang lebih terbuka dan kolaboratif.
Ia mengusulkan tiga langkah utama. Yakni memperkuat keterhubungan akademisi dan industri melalui pengembangan kurikulum yang melibatkan dunia usaha, memanfaatkan sistem kerja jarak jauh dan hibrida untuk menghubungkan talenta Indonesia dengan pasar global. Kemudian meningkatkan investasi pada program up-skilling dan re-skilling.
Arief menegaskan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dan otomatisasi seharusnya dipandang sebagai pengganda kapabilitas yang dapat meningkatkan produktivitas, bukan ancaman bagi pekerjaan.
Ia menyoroti perubahan karakter talenta muda yang cenderung menginginkan peluang kerja lintas negara, cepat beradaptasi dan belajar, serta memilih organisasi yang memiliki dampak sosial, tata kelola yang baik, dan praktik bisnis berkelanjutan.
“Nilai seseorang bukan lagi semata pada apa yang ia ketahui hari ini, tetapi seberapa cepat ia mampu mempelajari apa yang dibutuhkan besok,” katanya.
Arief menilai bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi keunggulan jika disertai pengembangan pola pikir global. Indonesia membutuhkan talenta yang tetap berpegang pada nilai-nilai nasional, namun mampu berkolaborasi di tingkat internasional dan menguasai teknologi baru.
Petakan sektor strategis
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Fauzan, mendorong perguruan tinggi, khususnya UI, mengambil peran lebih strategis dalam menyiapkan SDM yang mampu bersaing di tingkat global.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Fauzan Foto: WIL
Menurutnya, tenaga kerja Indonesia di luar negeri masih didominasi sektor domestik, pertanian, dan konstruksi. Meski sektor-sektor tersebut berkontribusi penting bagi perekonomian, Indonesia perlu mulai menyiapkan tenaga profesional yang memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.
“UI perlu melakukan pemetaan sektor-sektor strategis yang memiliki nilai tawar tinggi sehingga Indonesia dikenal karena kualitas manusianya,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama pendidikan tinggi adalah memastikan relevansi dengan kebutuhan industri. Banyak perguruan tinggi masih mengembangkan program pendidikan dengan pendekatan lama tanpa menjadikan dinamika pasar dan kebutuhan dunia kerja sebagai acuan utama.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menjadi rektor dengan mendorong pembentukan program studi berbasis kebutuhan industri melalui masukan langsung dari pelaku usaha. Dengan pendekatan itu, lulusan tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling dipercaya masyarakat, UI dinilai memiliki kapasitas untuk menjadi pelopor dalam mencetak talenta profesional yang mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi bangsa.
“Saya berharap UI menjadi referensi perguruan tinggi lain yang mampu meningkatkan kesejahteraan bangsa, juga mampu mengangkat derajat dan martabat bangsa,” pungkasnya.
















