Kegiatan di SLB-D YPAC Bandung ini menjadi salah satu pengalaman menyentuh. Heru bercerita bahwa banyak anak yang menunjukkan kedekatan emosional mendalam hanya dalam waktu singkat. Ada yang memeluk erat para relawan, bahkan menahan mereka ketika hendak pulang.
“Ternyata mereka itu bukan butuh macam-macam. Mereka butuh teman. Karena keseharian mereka hanya bertemu dengan orang tua dan guru, jadi saat bertemu orang baru, mereka langsung menyayangi,” tuturnya.
Momen-momen sederhana namun penuh ketulusan tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh anggota tim bahwa keberadaan mereka membawa makna yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Kegiatan ini juga membawa pesan khusus bagi internal LHBM Counsel.
“Kita bekerja dan hidup enak. Tapi ada orang lain yang berbeda dengan kita dan diberikan kekhususan oleh Tuhan. Kita harus bersyukur dan mendukung mereka,” ujarnya.
Nilai empati ini, kata Heru, bukan hanya memperkaya kehidupan pribadi anggota tim, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan mereka kepada klien. Semangat peduli dan hadir untuk orang lain diharapkan menjadi pemantik etos kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Di sisi eksternal, Heru mengharapkan akan semakin banyak lagi firma hukum lain yang juga mengambil langkah serupa dan berdampak sosial yang tidak selalu harus hadir dalam bentuk program besar atau bantuan materi. Kehadiran yang tulus, partisipasi sederhana, dan interaksi manusiawi saja sudah bisa membawa perubahan positif bagi komunitas.
“Kantor hukum itu bisa berkontribusi dengan cara yang berbeda, tidak hanya memberikan layanan hukum gratis. Ada banyak hal yang bisa dilakukan yang punya dampak besar bagi masyarakat,” tutupnya.
















