LHBM Counsel mempertegas komitmennya terhadap tanggung jawab sosial melalui kegiatan volunteer di Sekolah Luar Biasa (SLB)-D di bawah naungan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Bandung. Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi wujud nyata filosofi firma hukum tersebut tentang empati, keberpihakan pada masyarakat rentan, dan makna kontribusi yang lebih luas dari profesi hukum.
Firma hukum ini hadir tepat saat SLB-D YPAC mengadakan festival olahraga “Bocce, Boccia & turbo” sebuah ajang kompetisi yang dirancang khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan berbagai kondisi disabilitas. Bukan hanya menyaksikan perlombaan, tim LHBM Counsel juga berinteraksi langsung dengan para siswa, mengikuti pertandingan lempar bola, hingga lomba kursi roda. Momen tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para relawan.
“Melalui kegiatan ini, kami menyaksikan langsung semangat luar biasa dari anak-anak penyandang disabilitas. Ketekunan dan antusiasme mereka memberikan pelajaran berharga untuk kami semua,” kata Partner LHBM Counsel, Heru Muzaki saat dihubungi Hukumonline, Rabu (9/12/2025).
Baca juga:
- Jennifer Thejaya: Empati dan Peran Perempuan dalam Dunia Hukum yang Dinamis
- Daftar Magang Masih Dibuka, FH Unpar Gandeng Top Law Firm dan Kadin
Bagi LHBM Counsel, kegiatan relawan semacam ini merupakan agenda yang biasa dilakukan. Setiap tahun, firma hukum ini menetapkan target untuk menjalankan minimal satu kegiatan pro bono dan satu kegiatan sukarela.
“Kami yakin profesi ini bukan hanya untuk kami. Ada orang lain yang membutuhkan uluran tangan dan kehadiran kami,” jelas Heru.
Menurutnya, pro bono tidak selalu berbentuk bantuan hukum, kontribusi bisa diwujudkan melalui bentuk yang lebih sederhana namun berdampak. Seperti mengajar, membantu kegiatan sosial, atau ikut terjun langsung memberikan dukungan kepada komunitas.
Kegiatan di SLB-D YPAC Bandung ini menjadi salah satu pengalaman menyentuh. Heru bercerita bahwa banyak anak yang menunjukkan kedekatan emosional mendalam hanya dalam waktu singkat. Ada yang memeluk erat para relawan, bahkan menahan mereka ketika hendak pulang.
“Ternyata mereka itu bukan butuh macam-macam. Mereka butuh teman. Karena keseharian mereka hanya bertemu dengan orang tua dan guru, jadi saat bertemu orang baru, mereka langsung menyayangi,” tuturnya.
Momen-momen sederhana namun penuh ketulusan tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh anggota tim bahwa keberadaan mereka membawa makna yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Kegiatan ini juga membawa pesan khusus bagi internal LHBM Counsel.
“Kita bekerja dan hidup enak. Tapi ada orang lain yang berbeda dengan kita dan diberikan kekhususan oleh Tuhan. Kita harus bersyukur dan mendukung mereka,” ujarnya.
Nilai empati ini, kata Heru, bukan hanya memperkaya kehidupan pribadi anggota tim, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan mereka kepada klien. Semangat peduli dan hadir untuk orang lain diharapkan menjadi pemantik etos kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Di sisi eksternal, Heru mengharapkan akan semakin banyak lagi firma hukum lain yang juga mengambil langkah serupa dan berdampak sosial yang tidak selalu harus hadir dalam bentuk program besar atau bantuan materi. Kehadiran yang tulus, partisipasi sederhana, dan interaksi manusiawi saja sudah bisa membawa perubahan positif bagi komunitas.
“Kantor hukum itu bisa berkontribusi dengan cara yang berbeda, tidak hanya memberikan layanan hukum gratis. Ada banyak hal yang bisa dilakukan yang punya dampak besar bagi masyarakat,” tutupnya.
















