Terbaru

MA Diminta Terbitkan Panduan Hakim WFH untuk Persidangan Pidana Online

Karena Perma No. 4 Tahun 2020 (Perma Sidang Pidana Online) belum mengatur hakim yang melakukan kegiatan persidangan dari rumah (WFH).

Oleh:
Aida Mardatillah
Bacaan 4 Menit

“Prinsipnya pemeriksaan perkara pidana itu batas waktunga mengacu masa penahanan dan ditentukan sesuai jangka waktu penahanan. Artinya pelaksanaan sidang itu tergantung pada masa penahanan karena kalau melebihi masa penahanan terdakwa bebas demi hukum,” katanya.  

Dalam Pasal 2 Perma 4/2020 ini, disebutkan hakim/majelis hakim, panitera pengganti, penuntut bersidang di ruang sidang pengadilan. Sementara terdakwa mengikuti sidang dari Rutan tempat terdakwa ditahan dengan didampingi/tanpa didampingi penasihat hukum. Atau hakim/majelis hakim, panitera pengganti bersidang di ruang sidang pengadilan, sedangkan penuntut umum mengikuti sidang dari Kantor penuntut umum, terdakwa dengan didampingi/tanpa didampingi penasihat hukumnya mengikuti sidang dari Rutan tempat terdakwa ditahan.

Dalam Pasal 2 ayat (3-5) Perma ini disebutkan apabila sidang online dilaksanakan, semua peserta sidang wajib terlihat di layar dengan terang dan jelas dan dengan suara yang jernih. Panitera pengganti mempersiapkan sarana persidangan termasuk memastikan terkoneksinya peserta sidang dengan majelis hakim. Dalam persidangan hakim, panitera pengganti, penuntut dan penasihat hukum menggunakan atribut sidang masing-masing.

Dalam SE No. 7 Tahun 2021 disebutkan menindaklanjuti arahan Yang Mulia Ketua MA berkenaan kebijakan Presiden RI mengenai PPKM Darurat tanggal 3 Juli 2021 sampai dengan 20 Juli 2021 serta memperhatikan SE Menpan RB No. 14 Tahun 2021 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Pegawai Aparatur Sipil Negara Pada Masa PPKM Darurat Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali, disampaikan beberapa hal sebagai berikut.  

Pertama, Hakim dan Aparatur pada satuan kerja yang berada di wilayah Jawa dan Bali dengan status level 3 clan 4 berdasarkan diktum ketiga huruf c angka 2 Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2021 tentang PPKM Darurat Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali menjalankan pola kerja Work From Office (WFO) maksimal 25% dari jumlah keseluruhan Hakim dan Aparatur di satuan kerja yang bersangkutan. (Baca Juga: Profesi Advokat Tak Masuk Sektor Esensial, PERADI Surati Presiden)  

Kedua, Hakim dan Aparatur yang sedang menjalankan pola kerja Work From Home (WFH) tetap melaksanakan pekerjaannya seperti biasa dengan menggunakan sistem daring. Ketiga, menunda semua kegiatan yang bersifat menggumpulkan orang di lokasi tertentu dan perjalanan ke luar kota baik dinas maupun nondinas selama periode PPKM Darurat, kecuali yang bersifat mendesak dengan mendapatkan izin terlebih dahulu dari pimpinan satuan kerja.

Keempat, para pimpinan satuan kerja wajib melakukan pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan secara ketat terhadap Hakim dan Aparatur yang menjalankan pola kerja WFO. Kelima, Hakim dan Aparatur yang berada di wilayah Jawa dan Bali yang tidak masuk dalam status level 3 dan level 4 tetap melaksanakan tugas seperti biasa dengan berpedoman pada SE MA No. 1 Tahun 2020 beserta perubahannya, SE No. 8 Tahun yang telah diubah dengan SE MA No. 9 Tahun 2020. 

Terkait pola kerja di lingkungan MA dalam SE No.8 Tahun 2021 disebutkan, mengingat keadaan para Hakim Agung dan Hakim Ad termasuk dalam kategori berusia rentan tertular virus Covid-19, selama masa PPKM Darurat mulai tanggal 3 Juli sampai dengan tanggal 20 Juli 2021, bagi Yang Mulia Para Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc diberlakukan pola kerja 100% Work From Home (WFH) dengan ketentuan tetap melaksanakan semua pekerjaan dari rumah termasuk penyelesaian perkara dengan memperhatikan tenggang waktu penyelesaian perkara yang sudah ditetapkan, kecuali:

Pertama, menghadiri sidang musyawarah ucapan dalam hal terdapat perbedaan pendapat yang perlu dimusyawarahkan lebih lanjut. Kedua, ada kebijakan lain yang bersifat sangat penting dari masing-masing Ketua Kamar. Ketiga, pimpinan MA menghendaki kehadiran secara langsung.

Tags:

Berita Terkait