Sebagai elemen utama dalam sistem peradilan, hakim memainkan peran krusial dalam menegakkan keadilan dengan cara yang profesional, berintegritas, dan adil. Oleh karena itu, para calon hakim perlu mempersiapkan diri dengan matang agar dapat memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung.
Selain kemampuan akademis dan integritas moral, seorang calon hakim diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis dan bijaksana dalam menangani berbagai masalah hukum yang rumit. Lantas, bagaimana strategi yang tepat untuk lolos seleksi menjadi hakim?
Hakim Pengadilan Negeri Prabumulih, Sumatera Selatan, Amelia Devina Putri mengatakan ketika kesempatan berkarier menjadi hakim belum tersedia, lulusan hukum dapat memperkaya pengalaman karier di bidang hukum lain seperti bergabung dengan firma hukum, perusahaan, dan sebagainya. Dari situ mereka bisa memperkaya pengalaman dan portofolio sebelum mengikuti tes seleksi hakim.
Baca Juga:
- Kesejahteraan Hakim di Daerah Minim, MA Diminta Beri Perhatian
- Menyoroti Integritas Hakim di Tengah Risiko Korupsi
Wanita yang kerap disapa Amel ini membahas mengenai pentingnya persiapan bagi calon peserta seleksi hakim. Ia menekankan meski banyak pekerjaan sehari-hari yang harus dikerjakan, persiapan yang intensif sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam seleksi tersebut. Saat mengikuti tes terdapat beberapa tahapan, termasuk Seleksi Kemampuan Dasar (SKD) dan tes kemampuan hukum.
“Saat saya mengikuti tes, ada tahapan seperti Seleksi Kemampuan Dasar (SKD) dan kemampuan undang-undang. Saya belajar dengan serius karena saya ingin lulus; cita-cita saya adalah menjadi hakim. Oleh karena itu, saya mempersiapkan diri dengan baik. Meskipun masih ada pekerjaan, saya memanfaatkan waktu, misalnya saat makan siang, untuk belajar dan membaca buku-buku yang relevan,” ujar Amel dalam acara IG Live Hukumonline, Jumat (4/10).
Selain belajar sendiri, Amel mengaku sering belajar bersama teman-teman seperjuangan, meskipun karena keterbatasan waktu sebagian besar tetap belajar dilakukan secara mandiri. “Saya memberi perhatian ekstra pada materi hitungan karena sebagai mahasiswa umum, saya tidak sering berinteraksi dengan materi tersebut. Saya membeli buku dan berlatih sebaik mungkin,” imbuhnya.
















