Menuju Re-Akreditasi 2029, Pascasarjana Universitas Borobudur Siapkan Lompatan Mutu Akademik
Terbaru

Menuju Re-Akreditasi 2029, Pascasarjana Universitas Borobudur Siapkan Lompatan Mutu Akademik

Dengan 119 mahasiswa baru dan target melahirkan satu Guru Besar serta delapan Lektor Kepala pada 2026, penguatan jabatan fungsional, publikasi ilmiah bereputasi, dan persiapan re-akreditasi 2029 menjadi fokus utama.

Aditya Fajar Indrawan
Bacaan 2 Menit
 Ketua Program Doktor Ilmu Hukum, Prof Faisal Santiago (kedua dari kiri depan) berfoto bersama para dosen seusai mengadakan rapat bersama. Foto: Istimewa
Ketua Program Doktor Ilmu Hukum, Prof Faisal Santiago (kedua dari kiri depan) berfoto bersama para dosen seusai mengadakan rapat bersama. Foto: Istimewa

Program Pascasarjana Universitas Borobudur menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) akademik menjelang dimulainya semester genap tahun akademik 2025/2026. Komitmen itu mengemuka dalam Rapat Dosen yang dihadiri pimpinan dan 43 dosen dari empat program studi: Magister Manajemen (MM), Magister Ilmu Hukum (MIH), Doktor Ilmu Ekonomi (DIE), dan Doktor Ilmu Hukum (DIH).

Perkuliahan semester genap dijadwalkan dimulai pada 7 Maret 2026, dengan total 119 mahasiswa baru tersebar di empat program tersebut. Forum rapat dosen menjadi momentum penyamaan persepsi sekaligus konsolidasi strategi peningkatan mutu akademik.

Ketua Program Doktor Ilmu Hukum, Prof Faisal Santiago, menekankan penguatan kualitas dosen menjadi agenda prioritas. Ia menargetkan pada 2026 Pascasarjana dapat melahirkan satu Guru Besar dan delapan Lektor Kepala.

“Peningkatan jabatan fungsional bukan sekadar administrasi, tetapi cerminan kapasitas akademik. Tahun 2026 kita targetkan lahir satu Guru Besar dan delapan Lektor Kepala di lingkungan Pascasarjana,” ujar Faisal dalam keterangan yang diterima Hukumonline, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga:

Menurutnya, target tersebut harus ditopang oleh peningkatan produktivitas publikasi ilmiah di jurnal bereputasi, penulisan buku ajar, serta konsistensi dalam pengabdian kepada masyarakat.

“Tri Dharma Perguruan Tinggi harus dijalankan secara utuh. Penelitian, pengajaran, dan pengabdian tidak bisa dipisahkan. Semua dosen tanpa terkecuali wajib mengambil peran,” katanya.

Komitmen serupa juga disampaikan pimpinan program studi lainnya. Ketua Magister Ilmu Hukum, Ahmad Redi, menyebut peningkatan kualitas akademik harus dilakukan secara sistematis dan terukur. Dari sisi akreditasi, capaian Pascasarjana terbilang kompetitif.

Magister Manajemen dan Doktor Ilmu Ekonomi berstatus ‘Baik Sekali’, dengan Magister Manajemen tengah berproses menuju ‘Unggul’. Sementara Magister Ilmu Hukum telah meraih ‘Unggul’ dengan nilai 367 dan Doktor Ilmu Hukum ‘Unggul’ dengan nilai 375.

Meski re-akreditasi baru dijadwalkan pada 2029, persiapan disebut telah dimulai sejak dini. Penyusunan dokumen pendukung, penguatan luaran penelitian, hingga peningkatan kualitas karya ilmiah menjadi fokus pembenahan.

“Kita tidak bisa menunggu momentum akreditasi untuk berbenah. Proses penguatan mutu harus berjalan setiap semester, termasuk dalam hal publikasi dan rekam jejak akademik dosen,” katanya.

Dengan tren jumlah mahasiswa yang terus bertambah dan fasilitas pembelajaran yang terpakai optimal, manajemen kampus optimistis Pascasarjana Universitas Borobudur dapat mempertahankan reputasinya sebagai salah satu pilihan studi lanjut di Jakarta Timur. Kampus yang beralamat di Jalan Laksamana Malahayati (Kalimalang) No. 1 tersebut, menurut Prof. Faisal Santiago, semakin diminati sebagai tempat melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktor.

 “Kualitas dosen dan sarana prasarana harus berjalan beriringan. Dengan jumlah mahasiswa yang terus meningkat, kami memastikan proses belajar mengajar tetap terjaga mutu dan kenyamanannya,” pungkas Faisal.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info