Kepala Pusat Kontra Terorisme Nasional Amerika Serikat, Joseph Kent resmi mengundurkan diri dari jabatannya dan menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang di Iran. Keputusan tersebut disampaikan melalui surat resmi yang ditujukan langsung kepada Trump dan berlaku efektif pada hari yang sama.
“Setelah melalui banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi saya sebagai Kepala Pusat Kontra Terorisme Nasional Amerika Serikat, karena saya tidak bisa, dengan hati nurani yang bersih, mendukung perang di Iran yang menurut saya tidak didasarkan pada ancaman nyata terhadap negara kita,” tulis Kent dalam suratnya, Selasa (17/3/2026).
Kent menilai keputusan untuk memulai konflik tidak sepenuhnya lahir dari kepentingan nasional Amerika Serikat. Melainkan dipengaruhi oleh tekanan eksternal, khususnya dari Israel dan kelompok pelobi yang memiliki kekuatan politik di dalam negeri. Pada periode sebelumnya, Trump dikenal lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuatan militer Amerika Serikat.
“Saya tetap mendukung nilai-nilai dan arah kebijakan luar negeri yang Anda (Trump) kampanyekan sejak 2016 hingga 2024, yang pada awalnya menekankan bahwa Amerika tidak boleh terjebak dalam perang panjang yang menguras nyawa prajurit dan sumber daya negara,” ujarnya.
Baca juga:
- Trump Umumkan Tarif Ekspor 19 Persen untuk Produk Indonesia, Pemerintah Perlu Waspadai Risiko Jangka Panjang
- Legitimasi Internasional Board of Peace Inisiatif Donald Trump Dipertanyakan
Menurut Kent, hingga pertengahan 2025, Trump masih memahami risiko besar dari konflik di kawasan tersebut. Namun, perubahan arah kebijakan kemudian terjadi seiring berkembangnya narasi ancaman yang dinilai tidak sepenuhnya akurat.
Dia menyinggung keberhasilan kebijakan militer sebelumnya, seperti operasi terhadap Qasem Soleimani dan upaya penumpasan ISIS, yang menunjukkan kekuatan militer dapat digunakan secara tegas tanpa perlu menyeret Amerika ke dalam konflik jangka panjang. Hanya saja, situasi kali ini dinilai berbeda. Pembentukan opini membuat Iran tampak sebagai ancaman langsung yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
















