Utama

Pengorbanan Tuti Hadiputranto Jadi Top Lawyer: Dikritik Anak Hingga Dicibir Rekan Advokat

Menjadi lawyer hebat harus punya komitmen tinggi.

Oleh:
Aji Prasetyo
Bacaan 3 Menit
Sri Indrastuti Hadiputranto dalam acara Festival of Alumni Leadership Camp dengan tema 'From Obstacles to Opportunities From Challenge to Success', yang diadakan ILUNI FHUI. Foto AJI
Sri Indrastuti Hadiputranto dalam acara Festival of Alumni Leadership Camp dengan tema 'From Obstacles to Opportunities From Challenge to Success', yang diadakan ILUNI FHUI. Foto AJI

Tak mudah bagi Sri Indrastuti Hadiputranto atau yang kerap disapa Tuti untuk menjadi salah satu advokat papan atas Indonesia. Salah satu pendiri Kantor Hukum ternama Hadiputranto Hadinoto & Partners (HHP) ini mengalami banyak tantangan dan rintangan selama malang melintang dalam pengabdiannya di dunia hukum Indonesia.

Dalam acara Festival of Alumni Leadership Camp dengan tema “From Obstacles to Opportunities From Challenge to Success” yang diadakan Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (ILUNI FHUI), Tuti membagi kisah perjalanan hidupnya yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya para perempuan yang berprofesi sebagai advokat maupun konsultan hukum.

“Harus punya komitmen yang tinggi karena konflik pasti ada, wanita menikah nanti jadi istri, jadi ibu, urus rumah tangga, makanya harus punya komitmen tinggi karena nanti akan ada godaan untuk melakukan hal yang lain itu besar sekali. Harus ada support dari keluarga. Suami saya juga lawyer, jadi ya enggak masalah karena tahu kerjaan saya,” ujar Tuti memberikan tips bagaimana dirinya bisa sukses menjadi sekarang ini.

Namun permasalahan akan tetap ada apalagi jika menyangkut soal anak. Ketika anak masih kecil, menurutnya mungkin masih bisa dibawa ketika bekerja, namun ketika anak beranjak sekolah mulai ada sedikit permasalahan karena anaknya yang disebut bernama Aryani itu menyusulnya ke tempat ia bekerja. Tuti pun menceritakan kisahnya mengenai hal tersebut.

“Pernah suatu kali saya masuk mobil abis meeting nyari Aryani, ternyata dia enggak ada di belakang saya, saya tanya Aryani di mana, mereka juga enggak tahu, lalu kita balik ke kantor ternyata dia tidur di kursi,” ujar Tuti menceritakan pengalamannya itu. (Baca: Freddy Harris: Tak Aktif Media Sosial, tapi Melakukan Inovasi Digital)

Tuti pun merasa bersalah atas kejadian tersebut, ia juga mengakui tidak bisa sepenuhnya menjadi Ibu rumah tangga yang bisa menemani anaknya sepanjang waktu. Bahkan ia pernah dikritik oleh anaknya yang ketika itu berusia 5 atau 6 tahun yang berkata mengapa ibundanya tidak bisa bekerja seperti orang lain yang waktunya lebih teratur, seperti berangkat kerja pagi dan sore sudah pulang ke rumah.

Oleh karena itu, ia terus berusaha memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk bersama dengan keluarganya, karena menurutnya lebih baik menggunakan waktu dengan baik untuk keluarga daripada terus menerus menghabiskan waktu bersama keluarga namun nantinya justru terjadi masalah.

Tags:

Berita Terkait