Perempuan Masih Minim Terlibat dalam Kebijakan Transisi Energi meski Jadi Garda Terdepan
Terbaru

Perempuan Masih Minim Terlibat dalam Kebijakan Transisi Energi meski Jadi Garda Terdepan

Perempuan dan kelompok rentan kerap menjadi garda terdepan dalam memastikan ketersediaan energi bagi rumah tangga dan komunitas. Namun, suara mereka sering kali tidak cukup terwakili dalam proses perumusan kebijakan transisi energi.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 3 Menit

Sementara itu, Sekretaris Jenderal sekaligus anggota unsur pemangku kepentingan Dewan Energi Nasional, Sripeni Inten Cahyani, mengakui Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Karena itu, diperlukan kontribusi dari berbagai pihak, termasuk perempuan dan komunitas lokal.

Hukumonline.com

Sekretaris Jenderal sekaligus anggota unsur pemangku kepentingan Dewan Energi Nasional, Sripeni Inten Cahyani.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada kritik terhadap kebijakan, tetapi juga mencari solusi serta berkontribusi dalam percepatan transisi energi. “Kita tidak perlu terus menyalahkan kondisi yang ada, tapi melihat apa yang bisa kita lakukan sekarang dan bagaimana kita bisa berkontribusi untuk masa depan energi kita,” ujarnya.

Inten menekankan, transisi energi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau perusahaan besar, tetapi juga dapat dilakukan oleh individu dan komunitas sebagai agen perubahan.

“Transisi energi tidak hanya dilakukan oleh perusahaan besar. Sebagai individu dan komunitas, kita juga bisa berperan sebagai agen perubahan dalam mendorong transisi energi,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui perempuan masih menghadapi berbagai hambatan dalam sektor energi, mulai dari stereotip gender hingga keterbatasan akses terhadap posisi kepemimpinan. Karena itu, ia menilai forum diskusi seperti ini penting untuk memperkuat jaringan, berbagi pengalaman, serta mendorong partisipasi perempuan di berbagai sektor pembangunan.

“Kita tidak ingin diperlakukan lebih, tetapi ingin diperlakukan setara. Namun untuk mencapai posisi yang sama, perempuan sering kali harus bekerja dua hingga tiga kali lebih keras,” pungkas Inten.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info