Setelah pergantian Wakil Kapolri, gerbong mutasi perwira tinggi (Pati) dan perwira menengah (Pamen) di lingkungan Polri langsung bergerak. Selang sehari setelah Nanan Sukarna dilantik jadi Wakapolri, belasan pejabat ikut bergeser posisi.
Komisaris Jenderal Fajar Prihantoro, misalnya, diangkat menjadi Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum), kursi yang ditinggalkan Nanan. Sebelumnya, Fajar duduk di kursi Kepala Badan Pemeliharaan dan Kemanan (Kabarharkam). Imam Sudjarwo menempati posisi yang ditinggalkan Fajar.
Kapolda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Oegroseno naik masuk Jakarta. Ia diberi amanah untuk menduduki kursi Kursi Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian (Kalemdikpol) yang sebelumnya ditempati Imam. Mabes Polri menggeser Irjen Pol Wisnu Amat Sastro ke Medan, menggantikan Oegroseno.
Jabatan penting lain yang diisi orang baru adalah Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Wakabareskrim). Kursi itu kini ditempati Irjen Pol Mathius Salempang. Mathius dikenal sebagai ketua tim independen Mabes Polri yang menangani kasus mafia hukum. Kursi Kapolda Kalimantan Timur yang selama ini dipegang Mathius kini ditempati Irjen Bambang Widaryatmo. Kursi Ito Sumardi sebagai Kabareskrim masih tetap dipertahankan. Sedangkan pejabat Wakabareskrim lama, Dikdik Mulayan Arief Mansyur kini menjadi widyaswara Sespim Polri Lembaga Pendidikan Kepolisian (Lemdikpol).
Mutasi jabatan ini merujuk pada Surat Telegram Rahasia (STR) yang diteken Kapolri Jenderal Timur Pradopo. STR bernomor 171/111/2011 tertanggal 1 Maret itu diteken setelah pelantikan terhadap Komjen Pol Nanan Sukarna resmi menempati kursi Wakapolri. Berdasarakn STR yang diperoleh hukumonline, sebanyak sembilan belas pejabat mengalami pergeseran jabatan.
Untuk polisi bintang satu, nama Brigjen Pol Wahyu Indra P diangkat menjadi Kapolda Sumatera Barat. Dari jajaran pamen, yang ikut bergeser adalah Ahmad Sukri Pasaribu. Polisi berpangkat Komisaris Besar ini diangkat menjadi Inspektur Wilayah V Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Mabes Polri. Lalu, Kombes Pol Ari Dono Sukmanto menjabat Wakapolda Sulteng, dan Kombes Suroso Hadi Siswoyo sebagai Kapusdik Intel Lemdikpol.
Melalui Wanjakti
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bahrul Alam menepis anggapan bahwa mutasi terkesan terburu-buru. Sebab, selang sehari Polri baru melantik Nanan menjadi Wakapolri. Menurut dia mutasi jabatan dilakukan lantaran berpengaruh terhadap kursi pejabat yang kosong.
Karena itulah, Polri segera melakukan mutasi agar tidak terdapat kursi jabatan kosong. Langkah ini dilakukan lantaran tugas Polri semakin berat. Sehingga, nama-nama yang disulkan oleh Dewan Kebijakan dan Kepangkatan Tertinggi (Wanjakti) langsung dipimpin oleh Kapolri.
Padahal, Wanjakti biasanya dipimpin langsung oleh Irwasum. Maklum, sejak Nanan menjadi Wakapolri, otomatis kursi Irwasum kosong satu hari. “TR yang baru, Wanjakti dipimpin oleh Kapolri,” imbuhnya, Rabu (2/3).
Lebih jauh mantan Kapolda Jawa Timur ini mengatakan pergeseran gerbong mutasi di tubuh Polri semata untuk memenuhi kebutuhan organisasi Polri. Pasalnya, ke depan tugas dan tanggungjawab Polri semakin penuh tantangan. Karena itulah Polri bergerak cepat demi berjalannya roda organisasi. “Jadi ini kebutuhan organisasi. Jadi ini tidak mendadak,” pungkas jenderal bintang dua itu.
Sebelumnya, mantan Kabareskrim Mabes Polri, Susno Duadji, juga sudah diberikan ‘kursi’ Penasihat Koordinator Staf Ahli Kapolri. Jabatan itu masih bersifat sementara seraya menunggu putusan PN Jakarta Selatan atas tuduhan korupsi yang mendera Susno Duadji.
















