“Mahasiswa tidak boleh diposisikan sebagai subordinasi dosen. Mereka adalah konsumen internal dari jasa pendidikan yang kita berikan. Hubungan dosen dan mahasiswa harus setara, tentu dengan nilai-nilai yang tetap dijaga,” ujarnya.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH Unair), Prof. Hadi Subhan. Foto: RES
Lebih jauh, Prof. Hadi menyoroti peran strategis pendidikan hukum dalam menentukan wajah hukum Indonesia ke depan. Ia menilai fakultas hukum merupakan wadah bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang hukum. Oleh karena itu, ia menegaskan pendidikan hukum merupakan salah satu tonggak utama dalam upaya memperbaiki sistem hukum nasional.
“Hakim, jaksa, polisi, pengacara, hingga in-house lawyer semuanya digodok di fakultas hukum. Jadi, wajah hukum Indonesia ke depan merupakan refleksi dari wajah pendidikan hukum saat ini,” jelasnya.
Prof. Hadi berharap Anugerah Dosen Hukum Favorit dapat terus diselenggarakan dan diperluas cakupannya. Ia juga berharap kolaborasi antar-fakultas hukum, baik negeri maupun swasta, dapat semakin diperluas agar penghargaan tersebut menjadi sumber inspirasi bagi dunia pendidikan hukum secara nasional.
“Harapannya ini tetap dilakukan, karena ini juga memberikan motivasi ke dosen dan juga bisa menjadi mirroring bagi dosen-dosen yang lain. Bahwa menjadi dosen itu memerlukan satu pengabdian dan juga satu komitmen untuk mencintai profesi tersebut,” tandasnya.

Prof. Hadi Subhan dan Alfin Sulaiman berfoto bersama usai pemberian plakat Anugerah Dosen hukum Favorit 2025. Foto: RES
Sementara itu, Founding Partner Arkananta Vennootschap, Alfin Sulaiman, yang menjadi pendukung ajang Anugerah Dosen Hukum Favorit 2025, menilai penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi yang penting dan bermakna. Menurutnya, kualitas pendidikan hukum sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.
“Penghargaan ini tidak hanya menilai kecakapan akademik, tetapi juga keteladanan, kedekatan, dan dampak dosen dalam membentuk karakter mahasiswa,” katanya.
Alfin menambahkan, dukungan Arkananta terhadap ajang ini merupakan komitmen untuk memperkuat ekosistem pendidikan hukum. Ia menyebut kualitas profesi hukum di masa depan sangat bergantung pada proses pendidikan yang menanamkan nilai, etika, dan integritas sejak dini. Lebih lanjut, ia berharap Anugerah Dosen Hukum Favorit dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi agenda yang kredibel, inklusif, serta berdampak luas.
“Bukan hanya sebagai ajang penghargaan, tetapi juga ruang refleksi dan inspirasi bagi dosen hukum untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran dan keteladanan,” pungkasnya.
















