Dalam rapat kerja perdana Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (ILUNI FHUI) yang digelar di Auditorium Djokosoetono, Sabtu (18/1), muncul saran yang dilontarkan bagi Dewan Pembina ILUNI FHUI. Mas Achmad Santosa misalnya, yang menjabat Ketua Dewan Pembina ILUNI FHUI itu menilai perlu eksistensi kuat bagi alumni dalam perannya kepada civitas akademika FHUI.
"Tiga hal yang diharapkan. Pertama, ialah people first. Kaitannya dengan kontribusi kami untuk meningkatkan kualitas SDM dari seluruh pemangku kepentingan," kata pria yang disapa Mas Ota itu.
Kedua, lanjut Mas Ota, adalah kontribusi untuk kampus dan publik lantaran itu bagian dari pengabdian masyarakat. Dan ketiga solidaritas para alumni. Menurutnya, ILUNI FHUI merupakan bagian dari komunitas hukum, lantas guna mencapai target program Indonesia Emas 2045 perlu ada rules of law yang kuat. Kemudian perlu ada acara khas seperti Indonesia Legal Outlook yang digagas oleh mereka untuk mengembangkan sayap. Hal-hal tersebut saling bertautan.
"Jadi saran saya adalah sejak sekarang kami harus jualan ide ini kepada pembuat kebijakan yang terkait dengan misi penyehatan hukum. Sebab buy-in proses itu penting," ucap Mas Ota.
Baca juga:
- 3 Profesor FHUI Ini Tunggu Pengukuhan Sebagai Guru Besar
- Membedah Mediasi Perceraian di Pengadilan Agama: Rini Maryam Raih Gelar Doktor dengan Studi Hukum Feminis
- MK Izinkan Dosen PNS Jadi Advokat Probono, Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
Kemudian terkait dampak yang diberikan untuk masyarakat, Wakil Ketua III Dewan Pembina ILUNI FHUI Eddy Soeparno berpendapat bahwa ikatan alumni harus bermanfaat untuk para alumni, terhadap dunia pendidikan hukum, praktik hukum dan masyarakat. Ia juga mengingatkan agar pengurus ILUNI FHUI terus menggiatkan partisipasi internal guna berkontribusi bagi kegiatan-kegiatan yang positif.
Di sisi lain, keberadaan alumni juga bisa memberikan solusi bagi problem aktual. Ia menantang ILUNI FHUI ke depannya untuk konkret berkontribusi. Misal, perihal krisis iklim dan kecerdasan buatan. "Kecerdasan buatan di atas rata-rata kita. Bagaimana aspek hukum dan etika ke dalam pengelolaannya? Karena pasti akan digunakan lebih lanjut lagi. Jadi itu beberapa tantangan yang saya berikan kepada ILUNI FHUI agar menjadi efektif," ujar Eddy.
















