Rabu, 15 June 2005

Pengacara Puteh Tertangkap Membawa Uang Rp250 juta di Pengadilan Tinggi DKI

'Saat ini kemungkinannya 80 persen uang itu berkaitan dengan perkara Abdullah Puteh'
Leo/CR









 


Awalnya, kata Khaidir, anggota tim berpapasan dengan Syaifuddin Popon di tangga gedung pengadilan. Saat itu, Syaifuddin terlihat membawa tas hitam. Tak lama kemudian, tim dari KPK ikut masuk ke ruangan panitera.


 


Kami tanya mana tasnya. Ternyata tasnya sudah ada di kolong meja salah seorang panitera tersebut. Kami suruh taruh diatas meja. Apa isinya, ternyata uang. Kami tanya berapa jumlahnya, kata pengacaranya 250 juta. Kemudian kita suruh tutup kita suruh pegang tasnya, dan kita giring ke kantor KPK, papar Khaidir


 


Ketika ditanya apakah tim KPK yakin bahwa uang tersebut ada kaitannya dengan perkara Puteh, Khaidir menyatakan keyakinannya. Saat ini kemungkinannya 80 persen tujuannya untuk mengurus perkara Puteh. Itu keterangan dia sendiri, ungkap Khaidir.


 


Saat ini baik Syaefuddin maupun Syamsul Rizal masih diperiksa di kantor KPK. Kabarnya, sedang dilakukan pendalaman siapa yang menyuruh penyerahan ini, siapa yang menerima, dan sudah berapa kali ada penyerahan seperti ini.


 


Dihubungi secara terpisah, Prof. Indriyanto Seno Adji yang juga menjadi anggota tim pengacara Puteh menyatakan belum mendengar kabar adanya penangkapan ini. Ia tidak bisa memastikan apakah Syaifuddin memang menjadi anggota tim pengacara Puteh. Namun, Indriyanto mengkonfirmasikan bahwa dalam proses banding, Puteh memang menunjuk beberapa pengacara baru.


 


Ditegaskannya,  dugaan penyuapan ini tetap harus diusut dengan seksama. Penyuapan bisa kena kalau dia punya kewenangan. Jadi harus diperhatikan, panitera ini disuap dalam kewenangan apa. Kalau tentang putusan, tentu tidak relevan, karena panitera tidak berwenang membuat putusan, kata Guru Besar Hukum Pidana dari Universitas Krisnadwipayana ini.

Salah seorang penasihat hukum Abdullah Puteh sore ini dikabarkan tertangkap tangan memberikan uang Rp250 juta kepada panitera Pengadilan Tinggi DKI (PT DKI). Berdasarkan informasi yang dilansir tempointeraktif, yang tertangkap adalah pengacara Puteh yang bernama Tengku Syaifuddin Popon dan  wakil panitera PT DKI Syamsul Rizal. Hampir dapat dipastikan pemberian uang tersebut ada kaitannya dengan perkara Puteh, mengingat Gubernur non Aktif Nanggroe Aceh Darussalam ini tengah dalam proses banding setelah divonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Korupsi.

 

Ketika dikonfirmasi, Khaidir Ramli membenarkan informasi adanya penangkapan itu. Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) itu menuturkan, penangkapan itu berawal dari informasi yang mereka peroleh tadi siang dari warga masyarakat bahwa akan ada penyerahan uang dari salah seorang pengacara Puteh.

 

Setelah meyakini bahwa informasi itu valid, lima orang termasuk Khaidir mulai menyiapkan strategi untuk menggagalkan  perbuatan tersebut sekaligus menangkap basah pelakunya.

 

Pada waktu yang ditentukan kami merapat ke TKP dan disana memang kita temui salah seorang penasihat hukum dari Abdullah Puteh sedang tertangkap tangan menyerahkan tas hitam yang berisi uang kepada salah seorang panitera di Pengadilan Tinggi DKI, kata Khaidir kepada hukumonline (15/6).

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua