KeluargaKeluarga
Dasar Hukum Poligami di Indonesia dan Prosedurnya
Bacaan 8 Menit

PERTANYAAN
Bagaimana dasar hukum poligami di Indonesia? Apa saja syarat untuk poligami yang sah? Bagaimana jika istri pertama tidak menyetujui suaminya menikah lagi?
Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami


Bacaan 8 Menit

Bagaimana dasar hukum poligami di Indonesia? Apa saja syarat untuk poligami yang sah? Bagaimana jika istri pertama tidak menyetujui suaminya menikah lagi?
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Prosedur Poligami yang Sah yang dibuat oleh Letezia Tobing, S.H., M.Kn. dan pertama kali dipublikasikan pada 18 Maret 2013, dimutakhirkan pertama kali pada 28 April 2021, dan dimutakhirkan kedua kali oleh Erizka Permatasari, S.H. pada 1 November 2023.
Seluruh informasi hukum dalam Klinik Hukumonline disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Silakan mempelajari Pernyataan Penyangkalan untuk informasi selengkapnya. Untuk memperoleh nasihat hukum yang sesuai dengan kasus Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Dasar hukum perkawinan, termasuk halnya dasar hukum poligami di Indonesia diatur dalam UU Perkawinan dan perubahannya. Lebih lanjut, menurut UU Perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[1] Jadi, pada dasarnya hukum perkawinan Indonesia berasaskan monogami.
Asas monogami diatur kembali dalam Pasal 3 ayat (1) UU Perkawinan beserta penjelasannya yang berbunyi:
Pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami (asas monogami).
Kendati demikian, UU Perkawinan memberikan pengecualian yang memungkinkan seorang suami untuk melakukan poligami.[2] Berikut penjelasannya.
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa menurut KBBI, arti poligami adalah sistem perkawinan yang membolehkan seseorang mempunyai istri atau suami lebih dari satu orang.
Menjawab dasar hukum poligami di Indonesia, ketentuan Pasal 3 ayat (2) UU Perkawinan mengatur secara jelas bahwa:
Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
Kemudian, pengadilan dalam memberi putusan selain memeriksa apakah syarat yang tersebut Pasal 4 dan 5 UU Perkawinan telah dipenuhi harus mengingat pula apakah ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dari calon suami mengizinkan adanya poligami.[3]
Khusus bagi yang beragama Islam, dasar hukum poligami diatur pula dalam Pasal 56 ayat (1) KHI yang menerangkan:
Suami yang hendak beristri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama.
Merujuk pada ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya poligami dapat dilakukan di Indonesia, sepanjang poligami tersebut dilakukan sesuai dengan hukum poligami yang berlaku di Indonesia dan memenuhi sejumlah syarat-syarat poligami. Apa syarat poligami?
Agar dapat melakukan poligami secara sah menurut hukum di Indonesia, maka poligami tersebut harus memenuhi syarat poligami sebagai berikut:[4]
Izin poligami tersebut diberikan pengadilan jika berpendapat adanya cukup alasan bagi pemohon (suami) untuk beristri lebih dari seorang.
Selanjutnya, mengenai syarat poligami di KUA atau syarat poligami bagi yang beragama Islam, secara garis besar, hukum poligami menurut hukum Islam memang tidak jauh berbeda dengan UU Perkawinan. Namun, dalam KHI terdapat syarat poligami lainnya yang harus diperhatikan, yaitu:
Dengan demikian, menjawab pertanyaan Anda, pada dasarnya jika istri pertama tidak menyetujui suami untuk menikah lagi, maka suami tidak dapat melakukan poligami, mengingat persetujuan istri merupakan syarat yang wajib dipenuhi jika suami hendak beristri lebih dari 1 orang.
Namun, dalam hal permohonan izin poligami diajukan ke Pengadilan Agama berdasarkan alasan yang sah menurut hukum, Pengadilan Agama dapat memberi izin setelah memeriksa dan mendengar keterangan dari istri yang bersangkutan.
Baca juga: Syarat dan Ketentuan Poligami bagi WNA
Demikian jawaban dari kami terkait dasar hukum poligami dan sejumlah syaratnya sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
Referensi:
KBBI, poligami, yang diakses pada 5 Desember 2025, pukul 19.00 WIB.
[1] Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”).
[2] Pasal 3 ayat (2) UU Perkawinan.
[3] Penjelasan Pasal 3 ayat (2) UU Perkawinan.
[4] Pasal 4 ayat (1) jo. Pasal 5 ayat (1) UU Perkawinan.
[5] Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Perkawinan.
[6] Pasal 5 ayat (2) UU Perkawinan.
[7] Pasal 4 ayat (2) UU Perkawinan.
[8] Pasal 55 ayat (1) Pasal 55 ayat (1) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (“KHI”).
[9] Pasal 55 ayat (2) dan (3) KHI.
[10] Pasal 58 ayat (1) KHI.
[11] Pasal 58 ayat (2) KHI.
[12] Pasal 56 ayat (1) KHI.
[13] Pasal 56 ayat (3) KHI.
[14] Pasal 59 KHI.
[15] Pasal 57 KHI.