Jumat, 09 Juli 2010

Hak Cipta Arsitektur

Hak Cipta Arsitektur

Pertanyaan

Dengan hormat, saya ingin mengetahui mengenai hak cipta arsitektur. Dalam UU Hak Cipta disebutkan bahwa Hak Cipta arsitektur meliputi seni gambar arsitektur, seni maket arsitektur, dan seni miniaturnya. Apabila kami telah membangun suatu gedung dengan suatu konsep arsitektur, kemudian kami ingin merenovasi gedung lainnya dengan konsep desain yang sama dengan gedung sebelumnya, apakah harus menggunakan arsitek yang sama terkait hak cipta arsitekturnya? Apakah bila menggunakan konsultan lain dalam membuat desain gedung lain yang mengacu pada arsitektur gedung yang sama merupakan pelanggaran hak cipta? Terima kasih atas jawabannya.

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?

Percayakan masalah hukum Anda ke ahlinya. Hubungi konsultan hukum profesional, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Ulasan Lengkap

Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (“UU Hak Cipta”) menyatakan, jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak.

 

Kemudian, dalam pasal 26 ayat (1) UU Hak Cipta juga diatur bahwa Hak Cipta atas suatu ciptaan tetap berada di tangan Pencipta selama kepada pembeli Ciptaan itu tidak diserahkan seluruh Hak Cipta dari pencipta itu. Selanjutnya, dalam pasal 26 ayat (2) UU Hak Cipta ditambahkan, Hak Cipta yang dijual untuk seluruh atau sebagian tidak dapat dijual untuk kedua kalinya oleh penjual yang sama.

 

Jadi, yang penting untuk diperhatikan dalam permasalahan ini adalah perjanjian antara arsitek dan perusahaan pemesan. Bagaimana isi perjanjian antara kedua belah pihak tersebut? Apakah ada klausula yang menentukan bahwa Hak Cipta atas arsitektur gedung tetap dipegang oleh arsiteknya? Apabila tidak ada klausula tersebut, maka berdasarkan pasal 8 ayat (3) UU Hak Cipta di atas, perusahaan anda sebagai pemesanlah adalah Pencipta dan Pemegang Hak Cipta atas arsitektur bangunan tersebut. Demikian pula halnya apabila perusahaan Anda sebagai pembeli Hak Cipta arsitektur dari arsitek sebagai Pencipta, maka Hak Cipta dipegang oleh perusahaan Anda.

 

Apabila ternyata Anda yang menjadi pemegang Hak Cipta, maka Anda dapat menggunakan arsitektur tersebut untuk membangun gedung lain. Tidak ada keharusan untuk menggunakan arsitek yang sama, karena pemegang Hak Cipta atas arsitektur tersebut adalah perusahaan Anda.

 

Lepas dari itu, menurut Belinda Rosalina dalam disertasi doktoralnya, UU Hak Cipta sendiri belum menjelaskan penentuan similaritas substansial sengketa karya arsitektur. Sehingga, belum ada tolak ukur suatu karya dapat dinyatakan sebagai bentuk plagiarisme.

 
Demikian hemat kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:

Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

 


Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

Konsultan hukum profesional siap membantu Anda. Konsultasikan masalah Anda, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua