Jumat, 29 November 2013

Bagian Ayah Tiri atas Warisan Ibu

Bagian Ayah Tiri atas Warisan Ibu

Pertanyaan

Terima kasih sebelumnya, semoga kami mendapat pencerahan. Ibu kami setelah bercerai dengan Ayah kami, menikah lagi dengan Ayah Tiri kami. Kami kakak beradik 4 orang perempuan. Setelah menikah dengan Ayah Tiri kami, mereka pun mempunyai seorang anak perempuan sebagai Saudara Tiri kami. Sehingga kami kakak beradik 5 orang. Selama hidupnya Ibu kami bekerja, dan lebih dominan dalam penghasilan dan menghidupi keluarga dibanding Ayah Tiri kami, begitulah yang kami lihat dan selalu juga diceritakan Ibu kami. Ibu kami saat ini sudah meninggal sekitar 1 tahun yang lalu. Sebelum meninggal, Ibu kami memberikan Sertifikat Rumah atas nama Ibu Kami dan berpesan bahwa rumah ini didapat dari hasil jerih payah ibu dan diperuntukkan untuk seluruh anak-anaknya. Sekarang Ayah Tiri kami ingin menjual rumah tersebut dan hasilnya dibagi dua. Ayah Tiri kami mendapat 50%, dan 50%nya lagi dibagi rata sesuai jumlah anak (5 orang). Dengan alasan bahwa Ibu bisa membeli rumah tersebut juga setelah menikah dengan dia. Mohon pencerahannya, karena saat ini kami merujuk pesan dari Ibu sebelum meninggal dan kami harapkan dibagikan rata 6 bagian, 5 anak + Ayah Tiri.  

Ulasan Lengkap

Kami kurang mendapat keterangan apakah sebelum menikah Ayah tiri Anda dan Ibu Anda membuat perjanjian kawin yang berisi tentang pemisahan harta yang didapat oleh masing-masing pihak selama perkawinan atau tidak ada.

 

Kami berasumsi bahwa tidak ada perjanjian kawin antara Ayah tiri Anda dengan Ibu Anda. Jika tidak ada perjanjian kawin maka harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, terlepas dari siapa yang lebih dominan dalam mengumpulkan harta bersama tersebut. Ini sebagaimana dikatakan dalam Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”) bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Dengan pengecualian, sebagaimana terdapat dalam Pasal 35 ayat (2) UU Perkawinan, harta yang diperoleh masing-masing pihak sebagai hadiah atau warisan bukan harta bersama, melainkan harta bawaan. Harta bawaan berada di bawah penguasaan masing-masing pihak sepanjang tidak ditentukan lain.

 
Pasal 35 ayat (2) UU Perkawinan:

“Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.”

 

Oleh karena itu, jika rumah tersebut dibeli dalam perkawinan Ibu Anda dengan Ayah tiri Anda, maka rumah tersebut juga merupakan harta dari Ayah tiri Anda.

 

Jika rumah tersebut dijual, berarti setengah dari uang yang diperoleh dari penjualan tersebut adalah harta Ayah tiri Anda dan setengahnya lagi adalah harta Ibu Anda. Setengah bagian yang merupakan harta Ibu Anda itulah yang menjadi hak dari ahli warisnya.

 

Dalam hal ini, ahli waris dari Ibu Anda adalah Ayah tiri Anda serta anak-anaknya baik dari pernikahan pertama maupun dari pernikahan kedua. Lebih lanjut mengenai ahli waris, Anda dapat membaca beberapa artikel berikut ini:

1.    Empat Golongan Ahli Waris Menurut KUH Perdata;

2.    Pembagian Harta Warisan Ayah, Ketika Ibu Masih Hidup.

 

Jadi, jika tidak ada perjanjian kawin, maka Ayah tiri Anda memang berhak atas setengah dari hasil penjualan rumah tersebut yang merupakan bagian miliknya dalam harta bersama. Selain itu, Ayah tiri Anda juga berhak mendapat bagian harta warisan Ibu Anda (mendapat bagian dari setengah hasil penjualan rumah yang menjadi bagian dari harta Ibu Anda).

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 
Dasar Hukum:

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

 
 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Si Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua